counter create hit Drought - Download Free eBook
Ads Banner
Hot Best Seller

Drought

Availability: Ready to download

Drought, a translation of Iwan Simatupang’s novel, Kering (1972), is a joyous celebration of life and human commitment. Its hero is an ex-student, ex-soldier, and ex-bandit, who decides to transmigrate to one of the outer islands of Indonesia to restart life as a farmer. His near failure brings him into contact with a wonderful range of inspired madmen—bureaucrats, bandits Drought, a translation of Iwan Simatupang’s novel, Kering (1972), is a joyous celebration of life and human commitment. Its hero is an ex-student, ex-soldier, and ex-bandit, who decides to transmigrate to one of the outer islands of Indonesia to restart life as a farmer. His near failure brings him into contact with a wonderful range of inspired madmen—bureaucrats, bandits, psychiatrists, religious teachers, and the beautiful woman known simply as the V.I.P. Combined, these characters bring into question the normalcy of conventional society. Drought shows Simatupang writing at the height of his powers and is a lyrical testimony to the strength—and the unpredictability—of the human character.


Compare
Ads Banner

Drought, a translation of Iwan Simatupang’s novel, Kering (1972), is a joyous celebration of life and human commitment. Its hero is an ex-student, ex-soldier, and ex-bandit, who decides to transmigrate to one of the outer islands of Indonesia to restart life as a farmer. His near failure brings him into contact with a wonderful range of inspired madmen—bureaucrats, bandits Drought, a translation of Iwan Simatupang’s novel, Kering (1972), is a joyous celebration of life and human commitment. Its hero is an ex-student, ex-soldier, and ex-bandit, who decides to transmigrate to one of the outer islands of Indonesia to restart life as a farmer. His near failure brings him into contact with a wonderful range of inspired madmen—bureaucrats, bandits, psychiatrists, religious teachers, and the beautiful woman known simply as the V.I.P. Combined, these characters bring into question the normalcy of conventional society. Drought shows Simatupang writing at the height of his powers and is a lyrical testimony to the strength—and the unpredictability—of the human character.

30 review for Drought

  1. 4 out of 5

    Endah

    Ketika minggu lalu saya berkunjung ke toko buku, saya melihat ada dua buah buku Iwan Simatupang di rak buku baru, yaitu : Tegak Lurus dengan Langit (kumpulan cerpen) dan kumpulan esainya (saya lupa judulnya). Saya lalu ingat, rasanya saya pernah membeli satu (dengan harga obral sangat murah) novel karya Iwan Simatupang di sebuah pameran buku di Jakarta beberapa waktu silam. Sesampainya di rumah, saya cari novel tersebut. Ketemulah Kering di antara koleksi buku-buku saya. Sebelumnya, saya tidak i Ketika minggu lalu saya berkunjung ke toko buku, saya melihat ada dua buah buku Iwan Simatupang di rak buku baru, yaitu : Tegak Lurus dengan Langit (kumpulan cerpen) dan kumpulan esainya (saya lupa judulnya). Saya lalu ingat, rasanya saya pernah membeli satu (dengan harga obral sangat murah) novel karya Iwan Simatupang di sebuah pameran buku di Jakarta beberapa waktu silam. Sesampainya di rumah, saya cari novel tersebut. Ketemulah Kering di antara koleksi buku-buku saya. Sebelumnya, saya tidak ingat apakah saya pernah membaca karya Iwan Simatupang, seorang sastrawan kita kelahiran Sibolga, Sumatera Utara (satu kampung gak ya dengan Sitor?) pada 18 Januari 1928 dan meninggal dunia empat puluh dua tahun kemudian (masih sangat muda ya?). Tepatnya 4 Agustus 1970. Ia telah banyak menulis cerita pendek dan novel, di antaranya : Merahnya Merah dan Ziarah. Konon, ia adalah seorang eksistensialis yang karyanya sulit dipahami. Saya tidak tahu apakah ia benar seorang eksistensialis, tetapi yang jelas Kering telah membuat kening saya berkerut cukup banyak dalam upaya memahaminya. Eksistensialisme sendiri adalah salah satu cabang ilmu filsafat abad ke-20 yang menolak pemikiran metafisika tradisional dari Kant dan Hegel, demikian yang saya kutip dari Ensiklopedi Indonesia. Dikatakan pula bahwa ajaran pokok eksistensialisme adalah : "Kita dan benda-benda umumnya ada dan hanya urusan yang serba tak masuk akal (absurd) yang kita sebut hidup" Saya tak terlalu paham maksudnya, tetapi baiklah biarkan saya bicara tentang Kering saja. Novel ini terbit pertama kali tahun 1972, saat mana Orde Baru tengah menancapkan kuku-kuku kekuasaannya dengan berbagai program untuk "kesejahteraan rakyat". Salah satu program pemerintah itu adalah transmigrasi, memindahkan penduduk di Pulau Jawa ke pulau-pulau luar Jawa dengan slogan megah "demi masa depan yang lebih baik". Penduduk yang dipindahkan itu, baik secara paksa ataupun suka rela, dalam novel ini umumnya adalah orang-orang "pelarian". Ada yang lari dari tanggungjawab setelah menghamili pacarnya, ada kriminal yang kabur setelah menggelapkan uang perusahaan dan ada seorang mahasiswa yang bosan dengan ruang kuliah serta buku-buku tebal di perpustakaan. Mahasiswa inilah tokoh utama cerita yang disebut oleh penulisnya sebagai "Tokoh Kita". Iwan tak memberi tokoh-tokoh ceritanya nama yang lazim terdapat pada novel. Ia hanya memberi mereka sebutan seperti : "Tokoh Kita", "Si Gemuk Pendek" atau "Si Kacamata". Dikisahkan bahwa Tokoh Kita ini adalah seorang mahasiswa sangat cerdas yang sering mendebat dosen-dosen yang menurutnya kurang memuaskan dalam mengajar, sehingga para dosen kewalahan dibuatnya. Alih-alih bangga padanya, mereka malah bersikap memusuhi. Mereka lega saat akhirnya Tokoh Kita memutuskan berhenti kuliah dan memilih ikut transmigrasi. Sebetulnya : Dia tak memilih untuk jadi transmigran. Dia menjadi transmigran karena pikiran itulah saat itu kebetulan menyembul dalam dirinya. Bila yang kebetulan nyembul ketika itu adalah kehendak untuk jadi astronot misalnya, terang tak bakal di perkampungan transmigran sunyi tandus ini dia sekarang. Tapi, sebutlah di Cape Kennedy (hal.37) Maka, dimulailah kehidupan baru Tokoh Kita di daerah transmigrasi : membuka hutan, mencangkuli tanah, menanam bibit-bibit, menanti hujan datang... Hujan? Dia tertawa. Masih ingatkah ia, apa bagaimana hujan? Apa bagaimana rasanya basah? Dingin? Dia menggelepar. Serasa tak kuasa lagi dia mengkhayalkannya kembali. Hujan adalah pengertian sejarah purbakala baginya (hal.52) Ya, ternyata hanya kemarau panjanglah yang setia mengunjungi mereka : Kering. Ladang-ladang telah jadi dataran tanah retak..Matahari lohor tak kenal ampun. Teriknya melecut langit. Embun segumpal tak ada. Udara bergetar (hal.1) Keadaan yang demikian akhirnya membuat para transmigran itu menyerah, lantas satu demi satu mereka pergi meninggalkan ladang-ladang kering tersebut. Hanya Tokoh Kita seorang tetap tinggal bertahan menghadapi terpaan kemarau yang membakar bumi, mencoba untuk tidak menyerah kepada panas, kepada haus, dan rasa lapar : Silakan kau datang, hai lapar! Bumi kecil ini bakal tembus juga aku gali. Ingin tembus di mana aku ya? Texas? Ah, tidak! Bau minyak. California? Tidak. Terlalu banyak nilon dan neon. Terlalu banyak kenes dan uang pada jutawan-jutawan model baru seperti Frank Sinatra dan Sammy Davis Jr. Mexico barangkali? Dan ia terus menggali tanah itu dengan harapan bertemu mata air, sambil menahankan lapar sebab persediaan makanan telah ludes, sampai akhirnya tak tahan lagi. Ia ditemukan pingsan oleh petugas transmigrasi di pondoknya yang terbakar lalu dibawa ke kota. Di kota inilah Tokoh Kita mengajak pembaca "berlari" menyusuri kehidupan, bertemu orang-orang dan mengalami berbagai peristiwa yang terkadang menurut saya agak kelewat dramatis, misalnya : Kakek-kakek menari-nari, terkekeh-kekeh. Nenek-nenek main jungkir balik. Pria-pria memeluk wanita yang bukan istrinya. Wanita-wanita membiarkan dirinya dicium pria yang bukan suaminya. Juru rawat menjulurkan lidahnya pada dokter-dokter. Pemegang-pemegang buku mencubiti perut direktur-direktur. Mahasiswa memelonco mahaguru..(hal 169). Atau ini : Ketika gerimis pertama turun, dunia serasa kiamat. Mereka seperti kemasukan setan. Ada yang melompat tinggi sekali. Dengan sendirinya jatuhnyapun deras sekali. Otaknya berhamburan. Ada yang berteriak keras sekali. Sejak itu hilang suaranya. Selama-lamanya. Ada yang, setelah merobek baju dan celananya lebih dulu, merobek mukanya sendiri. Sejak itu dia buta. Sejak itu, dia berjari 10 kurang 1, 10 kurang 2, atau kurang lagi (hal.169) Tetapi Iwanpun tak lupa berkelakar, meski humor-humornya terasa sinis dan penuh sindiran : Kota beroleh senam baru. Yaitu : menatap lama-lama, tinggi-tinggi, ke langit. Banyak penduduk yang karenanya mengeluh diserang kejang leher. Balsem gosok--dalam dan luar negeri, tulen dan palsu, entah benar-benar balsem gosok, entah tidak--laris. Jutawan-jutawan balsem baru timbul (hal. 165). Melalui Tokoh Kita ini juga, Iwan melontarkan kritik-kritiknya kepada pemerintah (Orde Baru) beserta aparatnya, khususnya mengenai penyelenggaraan transmigrasi yang akhirnya terkesan hanya sekedar "memindahkan masalah", bukan menyelesaikannya. Kritiknya juga ditujukan pada orang-orang / kehidupan kota yang semakin bendawi dan sering menghalalkan segala cara demi kehidupan duniawi. Dalam Kering ini, Iwan seperti seseorang yang tengah menumpahkan kemarahannya pada keadaan sekitar yang mungkin dinilainya telah banyak menyimpang. Kegelisahan seorang sastrawan. Maka, lalu akhir cerita ini menjadi tidak terlalu penting lagi buat saya, sebab saya telah cukup merasa "asyik" sekaligus "pusing" dengan keseluruhan pemikiran penulisnya yang tumpah ruah di sepanjang halaman-halaman buku. Kendati, barangkali sedikit sekali yang bisa benar-benar saya pahami.

  2. 5 out of 5

    Thomas Hübner

    http://www.mytwostotinki.com/?p=1863 Indonesia, the world’s largest archipelago, is the Guest of Honor at the Frankfurt Book Fair 2015. This is a reason to use the opportunity to read some Indonesian literature – but it is not the only one. Indonesia is also a country with an immensely rich culture, and it is also the country with the world’s biggest Muslim community – and Indonesian Islam is very different from Islam in the Arab world. It has also achieved a quite successful transition from a co http://www.mytwostotinki.com/?p=1863 Indonesia, the world’s largest archipelago, is the Guest of Honor at the Frankfurt Book Fair 2015. This is a reason to use the opportunity to read some Indonesian literature – but it is not the only one. Indonesia is also a country with an immensely rich culture, and it is also the country with the world’s biggest Muslim community – and Indonesian Islam is very different from Islam in the Arab world. It has also achieved a quite successful transition from a corrupt authoritarian regime to a quite vibrant democracy that despite some problems is without doubt a success story. (Ok, since I lived in Indonesia, I feel a great nostalghia and am very fond of this country and its people – one reason more for me to read books from Indonesia.) The dominating Javanese and Balinese cultures have traditionally a strong focus on performative art: wayang theater, dance and ballet, poetry performances, gamelan music. Poetry readings are very popular, and the same goes for theater performances in general; but Indonesians usually don’t read much and buy even less books. The national literature is not a subject in school, and even world class authors like Pramoedya Ananta Toer, the grandmaster of Indonesian literature and Nobel Prize candidate, is unknown to many Indonesians. Only very recently things seem to change a bit: there is a quite generous grant program for translations of Indonesian literature (in English and German), several established literature festivals in Bali, Jakarta, and Makassar are becoming more and more popular, some younger authors, predominantly female, have bestsellers that are really widely read among younger Indonesians – in one word: many Indonesians discover the book and literature in general. A pioneer in bringing Indonesian literature to foreign readers is the Lontar Foundation, which has published over the years a growing number of Indonesian “classics”. One of these I am reviewing here, Iwan Simatupang’s novel Drought, first published 1972, two years after the early death of its author. The unnamed hero of the novel, an ex-student, ex-soldier/independence war hero, and ex-bandit decides to participate in the big Indonesian experiment of transmigrasi (transmigration) and to start a new life as a farmer on one of the outer islands of Indonesia. Transmigration was a huge program of the government of dictator Suharto that aimed officially at a better balance of population on the different islands of Indonesia. The government promised land and all kind of other incentives to mainly poor farmers from the overpopulated island of Java that had been willing to resettle on the other (usually not so fertile) islands. As a result, millions and millions of mainly Javanese people migrated within Indonesia, and it is easy to fathom that this was not only a gigantic transfer of population, it resulted also in many internal problems, starting from hunger and epidemics to which the transmigrants were frequently exposed, to environmental problems as a result of deforestation of huge areas, to ethnic and religious clashes between the frequently Christian autochthon population and the predominantly Muslim Javanese migrants. As a byproduct, almost all islands have now an ethnic majority of Javanese that are and were viewed as being more loyal to the Javanese-dominated central government in Jakarta than the local populations. Judging from today’s standpoint, the whole transmigration project can be considered as a huge failure that instead of improving the life of farmers turned out to be a scheme that was spreading poverty all over the archipelago. The unnamed hero of this novel is willing to fight the drought that the village where he re-settled has to face; while the whole village leaves because of the unbearable drought, he is struggling alone left to his own devices. However, he has not only to fight nature, but also later a number of equally unnamed agents of society and the government: a doctor who seeks to cure his “madness”, or an official of the transmigrasi office that wants to send him back to the same village that is suffering from the terrible drought again after he is released from hospital. But he meets also people who treat him as friend – a smuggler (“the little fat man”), his concubine (“VIP”), and a former guerilla fighter turned bandit (“Beard”). Simatupang’s characters are all without names – they are not only to be considered as individuals but as symptoms of Indonesian society in the 1960s. The smuggler, the bandit, the concubine, and the hero of the novel are failures in the eye of the society, but they show much more humanity and good-naturedness as the representatives of the system for which transmigration stands for. Simatupang is frequently using humor and irony in the novel to expose the pomposity, arrogance and hypocrisy of “official” Indonesia. According to the translator Simatupang “delights in exaggerating scenes to incredible lengths, and in the to-and-fro of outraged logic.” That is particularly true for the scene in which the author describes how a committee of university officials is holding a meeting in which they discuss if and how the university can get rid of this student that is questioning the rules and the authorities so much that it is simply unbearable for some of the professors; just when the heated discussion comes to a stalemate and several participants are on the verge of a nervous breakdown, a message of the hero comes in that he resigns from attending the university on his own will – and with a twist, the author adds that the hero liked the lessons of that professor most who was the most persistent advocate to get him removed from the campus – very embarrassing for those professor who looks now in the eyes of his colleagues (and the readers) like a complete ass. These kind of ironic twists are quite frequent in Simatupang’s novel and make it an entertaining read. Despite this rather critical approach of the author and his hero towards Indonesian society, the novel ends on a rather optimistic note. The hero, having been going through a long and sometimes painful educative process, realizes that only in living in the company of his fellow-men he can turn his back to failure. If he will finally succeed with his undertaking does not matter so much – at least he will have tried. “Where to? He didn’t know. Nor did he care. – A new passion seized him. He rolled up his sleeves. He stretched out his hands to the men standing stiffly on the truck. – “Let’s go!”” Drought is an interesting novel, and not only because of its somewhat exotic setting; it is making the reader curious to get to know more about Indonesian literature. The big number of newly translated titles this year is an excellent opportunity to discover this archipelago also via its literature. Make your choice!

  3. 5 out of 5

    Keith

    More of a fable than a novel, with two-dimensional, cardboard cut out stereotypes instead of characters. The philosophical references are pretentious. The plot contains implausible elements but this is not in the magical realism genre. This reveals little of Simatupang's world view and I got little from the context about transmigration or Indonesian mid-late 20th Century history. I would not recommend this book to anyone and would not wish to read another Iwan Simatupang novel if it were anything More of a fable than a novel, with two-dimensional, cardboard cut out stereotypes instead of characters. The philosophical references are pretentious. The plot contains implausible elements but this is not in the magical realism genre. This reveals little of Simatupang's world view and I got little from the context about transmigration or Indonesian mid-late 20th Century history. I would not recommend this book to anyone and would not wish to read another Iwan Simatupang novel if it were anything like this.

  4. 5 out of 5

    Bayu

    Absurd, sarcastic, penuh dark humor. Pengaruh dari Samuel Beckett, dan Albert Camus sangat terasa. Untuk orang yang terbiasa membaca novel novel "normal" novel ini akan sangat membingungkan, tidak masuk akal dan membosankan. Apalagi jika si pembaca TERBIASA membaca cerita cerita yang memiliki ending happily ever after, atau berakhir dengan misteri terpecahkan,maka novel ini akan sangat mengecewakan. Alur cerita yang benar benar mengabaikan logika membuat kita kadang kadang berkata, "What the fuck Absurd, sarcastic, penuh dark humor. Pengaruh dari Samuel Beckett, dan Albert Camus sangat terasa. Untuk orang yang terbiasa membaca novel novel "normal" novel ini akan sangat membingungkan, tidak masuk akal dan membosankan. Apalagi jika si pembaca TERBIASA membaca cerita cerita yang memiliki ending happily ever after, atau berakhir dengan misteri terpecahkan,maka novel ini akan sangat mengecewakan. Alur cerita yang benar benar mengabaikan logika membuat kita kadang kadang berkata, "What the fuck?" dalam hati. Membayangkan tokoh-tokohnya sibuk mendiskusikan hal remeh temeh ditengah-tengah masalah yang urgent dan jauh lebih besar mau tak mau mengingatkan kita akan tingkah laku birokrat dan elit politik di masa orde baru. Membahas masturbasi, kemungkinan disfungsi ereksi, atau libido anjing disaat dunia hampir kiamat karena kekeringan, atau memikirkan nilai pilosofis sebuah kata disaat sekarat, membuat kita tersenyum dan disaat yang sama berfikir tentang kemungkinan penyakit jiwa yang diderita penulisnya ketika menulis novel ini. Jika dipaksa untuk memberi penilaian terhadap novel ini apakah layak dibaca atau tidak maka rekomendasi Saya adalah: Novel ini menyenangkan, mencerahkan, sangat lucu, sekaligus meninggalkan kesan yang dalam bagi mereka yang menyukai dark humor atau memiliki sarcastic sense of humor. Novel ini cukup sebagai bahan menambah wawasan bagi mereka yang tergolong pembaca segala. Yaitu jenis pembaca yang membaca murni karena memuaskan nafsu membaca tanpa peduli apa yang dibaca, dari mulai buku ajar hingga novel cabul. Untuk mereka yang menganggap novel Ayat Ayat Cinta, atau Kambing Jantan sebagai masterpiece akan segera berhenti membaca novel ini tidak lebih dari sepuluh halaman. Saya pribadi menganggap novel ini secara khusus dan semua karya karya Iwan Simatupang secara umum sebagai karya yang luar biasa dan unik. Novel yang dari plot dan tema berani berkata dengan lantang, "Fuck the mainstream". Jika seseorang dipaksa untuk menebak pribadi Iwan Simatupang hanya berdasarkan 'Kering' dan tanpa sumber-sumber lain, maka Saya tidak akan terkejut jika dia akan menganggap Iwan Simatupang sebagai pribadi yang terganggu, tidak seimbang, bahkan gila. Ketika membaca 'Kering' entah kenapa dalam pikiran Saya selalu terbayang bahwa penulisnya (ketika itu Saya masih belum mengetahui siapa Iwan Simatupang)pastilah jenis manusia yang meninggal dengan cara bunuh diri atau karena permainan erotic asphyxiation.

  5. 4 out of 5

    Giffar Masabih

    Novel ini merupakan novel Iwan Simatupang yang saya baca, dan benar benar membuat saya jatuh cinta. Novel ini seperti berdiri di garis batas antara realitas dengan khayalan, dimana tokoh kita menjadi sebuah entitas yang melampaui entitas fisik, menyublim ke alam piikirnya sendiri. Novel yang sangat bagus

  6. 5 out of 5

    Vester Cobain

    At the end: "MARI...!!!" Manusia berjalan Manusia Terus Novel yang sangat bagus

  7. 4 out of 5

    Darnia

    Ok, salahkan gw karena kelewat o'on memahami novel ini. Padahal gw suka ide dasar yg digunakan di dalam ceritanya: kemarau di daerah transmigrasi. Tokoh kita ini bisa dibilang orangnya nekat, pantang menyerah, menganggap bahwa aturan pemerintah adalah "masa bodoh" dan mampu melihat kebaikan orang (pandangannya terhadap si Janggut, sang bekas pemimpin gerombolan dan si Gemuk Pendek, si kaya uang haram). Namun yg mengganggu, gw merasa sang tokoh kita ini agak-agak sotoi. Argumennya dalam mematahka Ok, salahkan gw karena kelewat o'on memahami novel ini. Padahal gw suka ide dasar yg digunakan di dalam ceritanya: kemarau di daerah transmigrasi. Tokoh kita ini bisa dibilang orangnya nekat, pantang menyerah, menganggap bahwa aturan pemerintah adalah "masa bodoh" dan mampu melihat kebaikan orang (pandangannya terhadap si Janggut, sang bekas pemimpin gerombolan dan si Gemuk Pendek, si kaya uang haram). Namun yg mengganggu, gw merasa sang tokoh kita ini agak-agak sotoi. Argumennya dalam mematahkan pendapat orang lain agak-agak menyepelekan, IMO sih. Belum lagi latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswa yg entah hukum, sejarah atau filsafat, tapi bisa dibilang, dia dibikin pinternya naudzubillah hingga mengalahkan mahaguru-mahagurunya. Belum lagi kesopanan dan keluguannya yg berhasil memikat dan "menjinakkan" VIP, wanita si Gemuk Pendek yg hobi pake baju tidur tipis nerawang. Yah, mungkin memang buku ini di luar dugaan gw yg awalnya berharap isi buku ini semacam "Kubah"-nya Tohari. Tapi bisa jadi model penceritaan macam inilah ciri khas Iwan Simatupang, mengingat ini buku pertama beliau yg gw baca. Kesimpulan gw sih, buku ini nggak cocok buat gw (menilik rating teman-teman di GR yg tinggi-tinggi).

  8. 5 out of 5

    mahatmanto

    kisah ini menyebut tokoh utamanya sebagai "tokoh kita" begitu saja. tidak penting benar ia punya nama atau tidak, karena yang dikisahkan adalah kisah universal: kisah seorang individu dalam berhadapan dengan situasi atau kondisi yang melingkupinya. tapi karakter "tokoh kita" ini jelas. kejelasannya terbangun berangsur-angsur melalui kerja yang ia lakukan. beberapa hari setelah memulai kerjanya menggali sumur "...tubuhnya tumbuh kekar, ototnya membaja, dan lebih dari itu ada perubahan pada dunia pera kisah ini menyebut tokoh utamanya sebagai "tokoh kita" begitu saja. tidak penting benar ia punya nama atau tidak, karena yang dikisahkan adalah kisah universal: kisah seorang individu dalam berhadapan dengan situasi atau kondisi yang melingkupinya. tapi karakter "tokoh kita" ini jelas. kejelasannya terbangun berangsur-angsur melalui kerja yang ia lakukan. beberapa hari setelah memulai kerjanya menggali sumur "...tubuhnya tumbuh kekar, ototnya membaja, dan lebih dari itu ada perubahan pada dunia perasaannya,,, kecenderungannya utk melihat dunia secara ungu lenyap, juga perasaan mengasihani diri sendiri pun..." kisah ini memang kisah bagaimana seorang individu "bekerja", mengolah dunia, tanpa pangkal dan ujung, berulang secara abadi. dalam proses mengolah dunia tanpa tujuan akhir inilah ia menjadi dirinya, menjadi suatu pribadi yang berfungsi dalam kehidupan dan ia mendapatkan karakternya. dunianya sendiri terus berputar, atau berjalan seolah tidak peduli dengan datang atau perginya individu. ---break dulu---

  9. 4 out of 5

    eti

    #50 - 2014 membacanya membuat saya sering berhenti. bukan bosan. tapi otak saya yang cepat banget panas. kacau. kok bisa ya. terus terang saja saya keteteran mengikuti pemikiran penulis di novel ini. semua ide, kritik, filsafat, humor satir berjejalan di novel ini. membacanya jadi gelagapan. jadi nggak habis pikir, di kurun waktu tahun 60-an -saat pembuatan novel ini, ide-ide yang dituangkan jauh melampaui masa penulisan. dan dibaca saat sekarang pun masih relevan dengan kondisi yang carut-marut #50 - 2014 membacanya membuat saya sering berhenti. bukan bosan. tapi otak saya yang cepat banget panas. kacau. kok bisa ya. terus terang saja saya keteteran mengikuti pemikiran penulis di novel ini. semua ide, kritik, filsafat, humor satir berjejalan di novel ini. membacanya jadi gelagapan. jadi nggak habis pikir, di kurun waktu tahun 60-an -saat pembuatan novel ini, ide-ide yang dituangkan jauh melampaui masa penulisan. dan dibaca saat sekarang pun masih relevan dengan kondisi yang carut-marut dan penuh borok. edun! jadi mikir, sekiranya novel ini difilmkan, sepertinya yang cocok jadi tokoh kita itu Donny Alamsyah. wajah ganteng & perawakan tubuh mendukung, kekar dan atletis. #karenanicholassaputraterlalumainstrem #salahfokusbaca :D

  10. 4 out of 5

    Dila Putri

    Cerita tentang kehidupan transmigran yang dikemas secara apik, sederhana, sekaligus liar. Gagasan-gagasannya gila, berani, juga kocak. Walau tanpa nama, Iwan Simatupang berhasil membangun tokoh-tokoh dalam buku dengan karakter yang kuat dan mudah diingat. Tentu, yang paling menonjol adalah si Tokoh Kita. Singkat kata, saya senang merasa pernah membaca karya sastra lama satu ini.

  11. 4 out of 5

    Iffah Adilah

    worth reading

  12. 4 out of 5

    Donny

    salah satu masterpiece iwan simatupang, unik dan menggugah

  13. 4 out of 5

    Arif Satsukhi

    good

  14. 5 out of 5

    Alin Sihite

    " kesunyian dan kesendirian adalah azab yang terlalu parah untuk ditanggungkan " hebat ! terasa sayang untuk menghabiskan pembacaan dialog2nya membuat saya berfikir tentang banyak perkara

  15. 4 out of 5

    John Ferry Sihotang

  16. 5 out of 5

    Rika Chan

  17. 4 out of 5

    Jeff Jacobson

  18. 5 out of 5

    ShellyWoyla

  19. 4 out of 5

    Yodie Hardiyan

  20. 4 out of 5

    Joni Budianto

  21. 5 out of 5

    Destya Pusparani

  22. 5 out of 5

    Fairynee

  23. 5 out of 5

    Ready

  24. 4 out of 5

    Nailal Fahmi

  25. 4 out of 5

    Bayu

  26. 4 out of 5

    AyamHAHAHA

  27. 5 out of 5

    Ivan

  28. 4 out of 5

    Ipung

  29. 4 out of 5

    Shalahuddin Gh

  30. 4 out of 5

    Imundzir

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.