counter create hit Rabu Rasa Sabtu - Download Free eBook
Ads Banner
Hot Best Seller

Rabu Rasa Sabtu

Availability: Ready to download

Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking… Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking… Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya- -meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.


Compare
Ads Banner

Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking… Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking… Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya- -meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.

30 review for Rabu Rasa Sabtu

  1. 5 out of 5

    Aravena

    Sewaktu Arswendo Atmowiloto meninggal dunia tahun lalu, saya jadi merasa ingin lebih banyak lagi membaca karyanya, apalagi saya hanya akrab dengan Keluarga Cemara yang tersohor itu. Kebetulan, saya menemukan novel ini.... yang bisa dibilang merupakan campuran antara roman sick lit dan drama menjurus surrealisme. Sick lit pada dasarnya adalah konsep cerita yang memosisikan protagonisnya dalam kondisi sakit parah dan divonis tak akan hidup lama. Biasanya lalu ada romansa antara tokoh sakit itu den Sewaktu Arswendo Atmowiloto meninggal dunia tahun lalu, saya jadi merasa ingin lebih banyak lagi membaca karyanya, apalagi saya hanya akrab dengan Keluarga Cemara yang tersohor itu. Kebetulan, saya menemukan novel ini.... yang bisa dibilang merupakan campuran antara roman sick lit dan drama menjurus surrealisme. Sick lit pada dasarnya adalah konsep cerita yang memosisikan protagonisnya dalam kondisi sakit parah dan divonis tak akan hidup lama. Biasanya lalu ada romansa antara tokoh sakit itu dengan tokoh lainnya, plus renungan tentang kematian dan bagaimana menghabiskan sisa hidup. Rabu Rasa Sabtu juga tipikal demikian, paling tidak sampai tiga perempat bukunya. 'Tokoh sakit'nya adalah cewek bernama Wayang, dan pasangan cintanya adalah Jalmo, pemuda rada nggak jelas yang masa lalunya baru diungkap di akhir buku. Beda status sosial, tapi disatukan oleh penyakit Wayang yang kronis dan membuatnya bisa mati sewaktu-waktu. Banyak bagian yang terasa bagus, terutama dari rangkaian kata-katanya yang seringkali indah nan puitis. Ada juga dialog/kejadian yang seringkali nyeleneh secara tak terduga, dan mungkin akan membuat kening pembaca berkerut, karena agak susah membayangkan orang-orang 'normal' melakukan/mengatakan itu di dunia nyata. Itulah unsur surrealnya, seperti kejadian sewaktu Wayang dan Jalmo tiba-tiba saja memutuskan mencari 'buaya putih' di suatu desa antah berantah. Level absurditasnya tidak pernah sampai ke titik yang membuat ceritanya jadi tidak bisa dimengerti, tapi begitulah.... ini jenis cerita yang IMHO lebih nikmat untuk 'diresapi' alih-alih 'dipikirkan logikanya'. Tentu saja, jenis cerita demikian seringkali sukar dinikmati banyak pembaca. Selain faktor itu, ada juga unsur seksualitas yang memang jadi tema penting ceritanya, tapi mungkin akan membuat sebagian pembaca tidak nyaman karena keseringan diulang-ulang dan condong vulgar :v Saya sendiri tidak begitu suka bagian akhir ceritanya, saat konflik bergerak ke arah yang terlampau mendadak (view spoiler)[dari soal penyakitnya Wayang menjadi identitas orientasi seksual Wayang yang ternyata suka perempuan + penelusuran masa lalu Jalmo yang pernah tinggal bersama anak-anak yang divonis tak akan hidup lama (hide spoiler)] . Tema itu sendiri menarik, begitu pun dengan penyelesaian cerita yang tak seperti sick lit pada umumnya, tapi eksekusinya kurang elok. Konflik-konflik tersebut rasanya lebih enak diperkenalkan di tengah cerita, bukan sewaktu menjelang akhir. Walau demikian, buku ini jelas membuat saya makin tergugah membaca lagi karya-karya fiksi Bung Wendo lainnya. Ada karakteristik kuat yang terasa dari bukunya, walau saya tidak selalu merasa suka dengan plot maupun karakternya. "Saya senang melihatmu tertidur, tenang. Kalau nanti kamu terbangun, saya masih ingin terus bercerita seperti yang kamu minta. Kalau nanti kamu tak terbangun selamanya, saya tetap akan bercerita selamanya." Bagaimanapun, mungkin inilah cara beliau sendiri dalam memaknai kematian....

  2. 4 out of 5

    Darnia

    Saat membaca blurb-nya, sempat berharap akan mendapatkan kisah semenarik Canting. Ternyata beda! Kisah Way dan Jalmo awalnya juga buat gw terlalu aneh. Masa Mama Tera dan Bapak segitunya bahagia, anaknya yg sakit dibawa ngalor-ngidul sama lelaki yg kenal aja belum. (view spoiler)[Gw kira karena waktu enam bulan yg diramalkan sebagai batas umur Way, ternyata kecenderungan si anak yg jadi alasan ortu-nya untuk membebaskan sang anak dengan lelaki plus berubungan badan dengan lelaki tersebut. Adegan Saat membaca blurb-nya, sempat berharap akan mendapatkan kisah semenarik Canting. Ternyata beda! Kisah Way dan Jalmo awalnya juga buat gw terlalu aneh. Masa Mama Tera dan Bapak segitunya bahagia, anaknya yg sakit dibawa ngalor-ngidul sama lelaki yg kenal aja belum. (view spoiler)[Gw kira karena waktu enam bulan yg diramalkan sebagai batas umur Way, ternyata kecenderungan si anak yg jadi alasan ortu-nya untuk membebaskan sang anak dengan lelaki plus berubungan badan dengan lelaki tersebut. Adegan seks-nya lumayan eksplisit, terutama pas Way dipijit Bu Neneng, agak ngingetin sama Norwegian Wood-nya Murakami. Ternyata kematian di kisah ini diartikan dengan terlahir kembali, walaupun bukan reinkarnasi (hide spoiler)] . Kisah tentang Jalmo kecil dan sebelas anak sekarat lebih menarik buat gw, begitu juga keapesannya pak Jauhari Efendi. Masih penasaran sama endingnya si bapak itu, masa gitu doang hehehe. Masih gagal paham sama judulnya, Rabu Rasa Sabtu. Di benak gw Rabu Rasa Sabtu ya Rabu besok, soalnya mau Idul Fitri hehehhee :p Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya

  3. 5 out of 5

    Ayunda

    Sudah lama tidak baca buku bahasa Indonesia, dan rupanya saya tidak pernah baca buku karangan Arswendo Atmowiloto. Melihat buku ini tergeletak di rak buku, saya memutuskan untuk coba baca saja. Cerita dari novel ini simpel dan seluruh bukunya bisa saya habiskan dalam satu hari. Gaya penulisannya unik dan bagus, dan sangat mudah membuat pembaca tidak ingin berhenti membaca. Jalan cerita dari novelnya menarik, ada sedikit unsur mirip seperti magical realism, tapi sebagian besarnya realistis. Sejuju Sudah lama tidak baca buku bahasa Indonesia, dan rupanya saya tidak pernah baca buku karangan Arswendo Atmowiloto. Melihat buku ini tergeletak di rak buku, saya memutuskan untuk coba baca saja. Cerita dari novel ini simpel dan seluruh bukunya bisa saya habiskan dalam satu hari. Gaya penulisannya unik dan bagus, dan sangat mudah membuat pembaca tidak ingin berhenti membaca. Jalan cerita dari novelnya menarik, ada sedikit unsur mirip seperti magical realism, tapi sebagian besarnya realistis. Sejujurnya saya tidak punya ekspektasi apa-apa ketika mulai membaca buku ini, jadi saya hanya sedikit kaget bahwa ini lebih mengarah ke romance dan percintaan. Karakter utama di buku ini adalah Wayang dan Jalmo. Mereka berdua sangat menarik untuk dibaca, dan perjalanan mereka di buku ini tidak seratus persen seru atau bikin saya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi cukup menarik untuk membuatku tidak berhenti membaca. Meskipun jalan ceritanya biasa saja, dan tidak ada satu pun karakter yang membuatku benar-benar jatuh cinta atau merasakan empati padanya, menurutku buku ini cukup asyik untuk dibaca dan merupakan karya literatur yang bagus. Gaya bahasanya yang unik, puitis dan enak dibaca, serta aspek-aspek yang dimunculkan dalam buku ini, mulai dari kematian, pasangan hidup atau cinta, menemukan jati diri, cinta kita pada keluarga kita, dan perasaan kita dalam sebuah hubungan dengan orang lain, tersimpan dalam cerita di novel ini dan membuat cerita di dalamnya menarik. Buku ini membuatku lebih tertarik untuk mencoba karangan Arswendo Atmowiloto yang lain!

  4. 4 out of 5

    Eka Yunif

    I DROPPED IT IN 3/4 OF THE BOOK. Gaya bahasa almarhum cakep banget, aku suka. A la gaya bahasa tulisan lama yang, kek gimana ya, indah aja. But, dude, I dropped the book because it gets even slower and slower... and slower.... Aku ngebaca ini sambil menjalani kebutuhan alam di kamar mandi sampe mengerjap-ngerjapkan mata karena seringkali aku bingung sendiri. BUT THE WRITING STYLE IS BEAUTIFUL! THAT! IS! THE! MOST! IMPORTANT! Oh, sexual innuendo-nya kerad dan bisa rada bikin ga nyaman buat aku yang I DROPPED IT IN 3/4 OF THE BOOK. Gaya bahasa almarhum cakep banget, aku suka. A la gaya bahasa tulisan lama yang, kek gimana ya, indah aja. But, dude, I dropped the book because it gets even slower and slower... and slower.... Aku ngebaca ini sambil menjalani kebutuhan alam di kamar mandi sampe mengerjap-ngerjapkan mata karena seringkali aku bingung sendiri. BUT THE WRITING STYLE IS BEAUTIFUL! THAT! IS! THE! MOST! IMPORTANT! Oh, sexual innuendo-nya kerad dan bisa rada bikin ga nyaman buat aku yang masih polos dan masih ga kenal dunia kek gituan iiiih /heh/ TBH, I decided to drop it because I left the book at my parents' home. Hehe. Ok bye.

  5. 4 out of 5

    Mandewi

    Yang saya suka dari Arswendo adalah isu yang diangkat dalam setiap karya, termasuk di Rabu Rasa Sabtu ini. Kematian dan kelamin (LGBT). Tapi eksekusi novel ini, bagi saya, kurang oke.

  6. 5 out of 5

    Fadila

    Barangkali itu yang terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu⁣ .⁣ .⁣ .⁣ Novel ini merupakan salah satu karya yang mesti saya baca dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya saya lakukan karena harus berusaha menangkap maksud dari setiap bagian yang di hadirkan penulisnya. Tantangan sekaligus ujian untuk orang seperti saya.⁣ ⁣ Meskipun dengan ide yang rasanya umum untuk di jumpai dalam novel namun cara penyajian serta diksi yang di gunakan oleh penulisnya menambah nil Barangkali itu yang terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu⁣ .⁣ .⁣ .⁣ Novel ini merupakan salah satu karya yang mesti saya baca dengan kecepatan yang tidak seperti biasanya saya lakukan karena harus berusaha menangkap maksud dari setiap bagian yang di hadirkan penulisnya. Tantangan sekaligus ujian untuk orang seperti saya.⁣ ⁣ Meskipun dengan ide yang rasanya umum untuk di jumpai dalam novel namun cara penyajian serta diksi yang di gunakan oleh penulisnya menambah nilai plus untuk novel ini. ⁣ ⁣ Novel ini menurut saya pribadi dapat di kategorikan sebagai jenis bacaan dewasa sehingga di harapkan kebijaksanaan pembaca terutama untuk yang usianya belum sesuai dengan bacaan dewasa. Ockeyshinee?⁣ ⁣ Karakter yang di hadirkan dalam novel dapat membawa cerita menjadi menarik walaupun saya menaruh harap lebih terhadap kemunculan ayah dari tokoh Wayang Supraba (Way) dalam menghadirkan konflik dalam novel ini.⁣ ⁣ Konflik yang di sajikan pun cukup bagus walaupun lonjakan ketegangan belum terasa maksimal. Namun keseluruhan dari novel ini keren terutama bahasa yang di gunakan😊⁣

  7. 4 out of 5

    Fiqih

    Bercerita tentang kisah cinta Way si gadis dengan penyakit batuk parah dengan Jalmo salah satu pegawai orang tuanya Way. Kisah cinta mereka tidak biasa karena Jalmo bukan tipikal laki-laki biasa. Way pun menimpali segala keunikan Jalmo dengan sepadan. Ditambah lingkungan yang ikut-ikutan unik mengikuti setiap langkah kedua pasangan ini. Di bagian tiga perempat akhir kita disuguhi dengan hal yang tidak terduga dari Way. Dan bagian hampir akhir juga disuguhi hal tidak terduga dari Jalmo. Endingnya Bercerita tentang kisah cinta Way si gadis dengan penyakit batuk parah dengan Jalmo salah satu pegawai orang tuanya Way. Kisah cinta mereka tidak biasa karena Jalmo bukan tipikal laki-laki biasa. Way pun menimpali segala keunikan Jalmo dengan sepadan. Ditambah lingkungan yang ikut-ikutan unik mengikuti setiap langkah kedua pasangan ini. Di bagian tiga perempat akhir kita disuguhi dengan hal yang tidak terduga dari Way. Dan bagian hampir akhir juga disuguhi hal tidak terduga dari Jalmo. Endingnya lebih membahagiakan lagi. Buku ini bagus karena cara penyampaian dan karakter yang ada disini semuanya unik.

  8. 4 out of 5

    Lukya Kumala Darmawan

    Buku dari pengarang ternama pertama yg mulai aku baca...oke ini sastra dan bukan teenlit 😁 tapi aku menikmatinya...saatnya meningkatkan level bacaan ku....semangat!!!

  9. 4 out of 5

    Daniel

    Arswendo Atmowiloto Rabu Rasa Sabtu Gramedia Pustaka Utama 240 halaman 3.3

  10. 4 out of 5

    Salza Annisa Puspitasari

    Cinta adalah ketidakpastian yang menyenangkan, cinta adalah hidup. Suka banget sama permainan kata Arswendo, menari-nari seperti pantun. Penokohannya juga asik! Karakter utamanya wanita, bernama Wayang. Sepertinya disengaja, karena jalan hidupnya sudah ditentukan oleh "dalang" nya, ayahnya. Sudah ditentukan kapan matinya, bahkan sejak ia lahir. Sudah ditentukan siapa jodohnya. Sudah ditentukan jalan hidupnya. "Aku mencintaimu, kalaupun kamu hanya separuh" Jalmo, orang yang sangat mencintai Wayang me Cinta adalah ketidakpastian yang menyenangkan, cinta adalah hidup. Suka banget sama permainan kata Arswendo, menari-nari seperti pantun. Penokohannya juga asik! Karakter utamanya wanita, bernama Wayang. Sepertinya disengaja, karena jalan hidupnya sudah ditentukan oleh "dalang" nya, ayahnya. Sudah ditentukan kapan matinya, bahkan sejak ia lahir. Sudah ditentukan siapa jodohnya. Sudah ditentukan jalan hidupnya. "Aku mencintaimu, kalaupun kamu hanya separuh" Jalmo, orang yang sangat mencintai Wayang meskipun baru saja mengenal, meskipun tau Wayang memiliki penyakit batuk yang mematikan (aneh ya, batuk bisa mematikan). "Ya, untuk sayang, untuk menyukai, untuk mencintai, tidak salah kalaupun baru kenal" Perjalanan mereka berdua mencari buaya putih, permainan waktu dan tokoh-tokoh di masa lalu mereka, semuanya dimainkan dengan apik. Salut buat Arswendo!

  11. 5 out of 5

    Teguh

    Saya benar-benar bahagia bulan Agustus kali ini, banyak buku bagus salah satunya adalah buku ini. Kesan yang saya tangkap selama membaca adalah ketidakpastian dalam kisah hidup. Arswendo seolah ingin menyampaikan bahwa hidup ini tidak pasti. Bahkan kematian saja bisa dianggap hal yang bisa diatur manusia. Tapi justru inilah kelucuannya. sakit batuk, kisah cinta platonik, kemudian jebull-jebul lesbian. "Aku tetap akan mencintaimu meski hanya separuh." UUUUh dalem

  12. 4 out of 5

    Nonna

    Walaupun tidak sebagus yang dibayangkan, saya tetap suka gaya penulisan Pak Wendo; fulgar, humor, tapi sekaligus menyentuh. Pemilihan kata-katanya juga menarik, rima yang asyik, seperti menulis puisi.

  13. 4 out of 5

    Asri Wuni

    Wayang sebenarnya tak berencana untuk hamil. Tapi nyatanya waktu memberinya kehamilan. Mengutip catatan di sana : "Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu"

  14. 5 out of 5

    Indah Threez Lestari

    028 - 2016

  15. 4 out of 5

    Octavia Laurenze

  16. 5 out of 5

    Sapta N.W.

  17. 4 out of 5

    Noviana Ika

  18. 5 out of 5

    Asmin Kurniati

  19. 5 out of 5

    Gilang Galiartha

  20. 5 out of 5

    Nima Sirait

  21. 5 out of 5

    Armita Budiyanti

  22. 4 out of 5

    Runa Ratri

  23. 4 out of 5

    Azka Shabrina

  24. 4 out of 5

    Johana

  25. 4 out of 5

    Afrizal

  26. 4 out of 5

    Rahmah

  27. 4 out of 5

    Aida

  28. 4 out of 5

    Murti Ayu

  29. 5 out of 5

    Hilda Andini

  30. 4 out of 5

    Nadia Sagitta

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.