counter create hit Bangkitnya Rusia Peran Putin dan Eks KGB - Download Free eBook
Ads Banner
Hot Best Seller
Ads Banner

42 review for Bangkitnya Rusia Peran Putin dan Eks KGB

  1. 5 out of 5

    Dendy Darin

    Penyakit lama saya, yaitu asal embat saat hunting buku, kembali kambuh sodara-sodara. Dan yang jadi korbannya saat ini adalah salah satu buku keluaran Penerbit Buku Kompas berjudul Bangkitnya Rusia – Peran Putin dan Eks KGB. Sebetulnya agak aneh juga saya memilih buku ini, mengingat topiknya yang aduhai dan mungkin bisa membuat kerutan kening bakal bertambah beberapa milimeter. Namun apa daya, mata ini langsung jatuh cinta saat memandangi sampulnya, Kremlin Palace, men! :D The Author Simon Saragih Penyakit lama saya, yaitu asal embat saat hunting buku, kembali kambuh sodara-sodara. Dan yang jadi korbannya saat ini adalah salah satu buku keluaran Penerbit Buku Kompas berjudul Bangkitnya Rusia – Peran Putin dan Eks KGB. Sebetulnya agak aneh juga saya memilih buku ini, mengingat topiknya yang aduhai dan mungkin bisa membuat kerutan kening bakal bertambah beberapa milimeter. Namun apa daya, mata ini langsung jatuh cinta saat memandangi sampulnya, Kremlin Palace, men! :D The Author Simon Saragih – sepertinya pernah denger? – adalah seorang wartawan senior Harian Kompas, dengan pengalaman jurnalistik yang luas di bidang ekonomi dan internasional. Penulis menyelesaikan MBA pada Nanyang Technological University Singapore dan Massachussets Institue of Technology, Boston, AS (2001-2002). Beliau menjabat sebagai Editor Desk Ekonomi 1998-2001, dan Wakil Editor Desk Internasional 2003-2008. Ooh.. Content Sekilas bila menengok susunan daftar isi, buku ini menawarkan essai dengan topik tertentu di tiap bab yang berjumlah 11 bab, dan tersusun secara kronologis. Menyimak deskripsi singkat di sampul belakang: Lebih dari setengah abad Uni Soviet terpuruk. Dikenal sebagai rezim yang brutal, kejam dan tidak menghargai hak asasi manusia. Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia berusaha membangun ekonomi yang berantakan karena perlombaan senjata dengan AS dan Blok Barat. Namun krisis ekonomi Rusia malah semakin parah, kemiskinan meningkat, korupsi merebak dan organisasi kriminal pun bermunculan. Kalau saya, yang terbersit di fikiran ketika mendengar kata Rusia atau Uni Soviet cuma ada tiga hal: komunis, nuklir dan Gorbachev, presiden yang berciri khas tatto pulau di kepalanya. Nah, lalu kenapa di sub judulnya tertulis: Peran Putin dan Eks KGB? Di bawah komando Vladimir Putin, mereka bergerak. Rusia bertindak langsung tanpa peran negara lain atau tanpa harus mengemis pada negara lain. Beberapa oligarki yang kaya mendadak di saat era reformasi atau transisi perekonomian, disikat oleh Putin. Kremlin juga kembali menasionalisasi aset negara yang sangat berharga yang sempat dikuasai swasta. Putin yang mana sih? Siapa Vladimir Putin? Diceritakan dalam buku ini, terlahir dengan nama Vladimir Vladimirovich Putin di Leningrad tertanggal 7 Oktober 1952, ia mendapat gelar sarjana bidang ilmu hukum di Universitas Leningrad. Selepas itu Putin tak sempat memiliki profesi sebagai praktisi hukum karena langsung bergabung dengan KGB (Komitet Gosudarstvennoy Bezospasnoti/Komite Kemanan Negara), yaitu salah satu agen intelijen yang paling disegani di dunia. Tak dinyana, pengalaman bekerja di KGB itu kemudian benar-benar membawa Putin ke puncak kekuasaan Rusia dalam usia yang relatif muda, yakni 47 tahun! Ia adalah presiden kedua Rusia setelah Boris Yeltsin, yang secara resmi dijabatnya sejak 7 Mei 2000. Sejak Putin menjadi presiden, Rusia memperlihatkan ingin tampil sebagai negara yang kuat, ingin memiliki eksistensi bukan saja di dalam negeri, tetapi di luar negeri. Rusia tidak saja berhasil, setidaknya hingga sejauh ini, mengambil kembali kekayaan negara dari perusahaan swasta. Rusia juga ingin memperkuat hegemoni di kawasan, setidaknya di beberapa negara eks Uni Soviet. Dan sepak terjang Putin dimulai dari kacaunya perekonomian dunia akibat krisis moneter yang menghantam perbankan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dimana saat itu Boris Yeltsin, presiden pertama Rusia, masih berkuasa… IMF: Penyelamat Atau Penghancur? Pada awal dekade 1990-an, dunia belum memahami betul keburukan dari apa yang dinamakan Konsensus Washington. Ini merujuk pada pemikiran Gedung Putih yang mempromosikan sistem perekonomian pasar. Sistem tersebut antara lain dipromosikan lewat Dana Moneter Internasional (IMF). Pada umumnya sistem perekonomian pasar, memang terbukti secara empiris memakmurkan berbagai negara. Hmm.. ya, kita semua tahu, Indonesia juga berada di barisan terdepan kalo masalah ngemis bantuan semacam ini. Namun yang baru saya tahu, ternyata apa yang dilakukan IMF itu tak dapat dipukul rata dapat diterapkan di semua negara. Opini ini terkuak dengan jelas di buku ini, lewat pemaparan seorang ekonom tersohor yang juga peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, Joseph Stiglitz. Stiglitz menguraikan, akar resesi Rusia yang mencapai klimaks pada tahun 1998 adalah bukti keterlibatan IMF yang secara serampangan memaksakan reformasi ekonomi Rusia tuk ditempatkan di jalur cepat. Padahal, perubahan sistem ekonomi dari sitem terencana menuju mekanisme pasar membutuhkan waktu lama dan bertahap. Sebagaimana yang telah ia tulis di bukunya Globalisation and Its Discontent, Stiglitz, menyatakan bahwa IMF itu arogan dan tidak mau mendengar opini negara berkembang yang justru ingin ditolong. IMF adalah lembaga yang menjauhkan diri dari sistem yang demokratis. IMF memberi resep yang justru makin menghancurkan negara, dengan secara perlahan membuat negara itu menuju resesi dan resesi itu menuju depresi. Wah, agak pusing juga saya mengikuti alur cerita yang berbau ekonomi banget. Inflasi, deregulasi, hingga skandal Fimaco yang melibatkan kroni Yeltsin dan IMF, menghiasi lanjutan skenario rentetan sejarah ekonomi Rusia di buku ini, yang berbuntut pada menguatnya opini tentang keterlibatan Amerika Serikat dalam kehancuran Rusia. What? Semua Berakar Pada Satu Kata: Konspirasi Adalah Anne Wiliamson, seorang wartawan kawakan yang membeberkan permainan peran Washington dalam penghancuran ekonomi Rusia lewat iming-iming kucuran dana IMF. Rusia, saat Yeltsin berkuasa, telah menjalankan bisnis yang korup dengan bantuan George W. Bush dan terutama di bawah pemerintahan Bill Clinton dalam kolaborasinya dengan para bankir di Wall Street. Ini juga didukung oleh orang-orang rakus di Departemen Keuangan AS, Harvard Institue for International Development, dan manipulator dari lembaga bergengsi Nordex, IMF, Bank Dunia dan Bank Sentral AS (Federal Reserve). Tak heran jika bukunya yang berjudul Contagion: The Betrayal of Liberty, Russia, and the United States in the 1990s sempat dilarang beredar, mengingat Williamson secara blak-blakan menyebutkan nama-nama yang terlibat di dalam lingkaran konspirasi ini. Bagai efek bola salju, polemik ini makin membesar dan menjadi pemberitaan umum di media. Seperti yang ditulis oleh Harian paling berpengaruh di Rusia, Nezavisimaya Gazeta: AS memang tidak berniat menolong, bahkan ingin menenggelamkan Rusia. Sadar bahwa Rusia tidak memiliki apa-apa kecuali minyak dan gas, AS ingin menekan Rusia di segala sektor, termasuk minyak dan gas, pertahanan ekonomi dan terakhir, Rusia itu sendiri. Seperti kata pepatah: sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga, itu pun yang berlaku bagi Yeltsin. Ditengah keterpurukan ekonomi yang menjadi dan seruan revolusi yang makin merebak di tiap jiwa orang Rusia, pamor Yeltsin anjlok hingga ke titik nadir. Sebaliknya, dari titik inilah Putin mulai mencuat ke permukaan. Dan Putin Pun Beraksi Salah satu aksi Putin yang paling jitu, menurut saya adalah kembalinya sentral pemerintahan negara ke satu sumber, Kremlin. Seperti di Indonesia, reformasi di Rusia juga membuahkan desakan tiap daerah untuk menentukan nasibnya sendiri, atau yang lebih dikenal dengan nama otonomi daerah. Setelah terpilih dengan mutlak pada pemilu Maret 2000 itu, Putin kemudian mengonsolidasikan kekuasaan secara vertikal. Ia mengeluarkan deskrit yang membuat 89 wilayah propinsi menjadi distrik yang diawasi langsung oleh orang kepercayaannya. Ini dimaksudkan untuk memperkuat posisi pemerintahan pusat. Dan efek yang ditimbulkan pun cukup mencengangkan. Indeks kepercayaan rakyat pada pemerintah meningkat pesat. Putin makin disukai karena memang budaya patrenalistik, yaitu kebutuhan akan pengayom negara yang kuat, masih berakar di relung hati orang Rusia. Begitupun dengan hal penguasaan aset-aset kekayaan negara, termasuk kekayaan alam. Putin beraksi dengan tak pandang bulu, memberangus swastanisasi hingga ke akar-akarnya hampir di semua sektor. Imbasnya sangat signifikan. Nasionalisasi aset negara ini menyumbang limpahan dana segar ke kas negara, yang membuat Rusia mampu meningkatkan pengeluaran untuk tujuan sosial, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, dan program pemberantasan kemiskinan. Hello? Ada yang akrab dengan kata-kata di atas? Ya, kalimat-kalimat yang di Indonesia hanya jadi semacam slogan, di Rusia ternyata sudah diterapkan dan terbukti, nasionalisasi kekayaan alam yang dikuasai swasta adalah satu keharusan, kalo ngga ya tunggu aja sampai bermunculan freeport-freeport berikutnya. Next, layaknya mengikuti plot teratur, buku ini menguraikan sepak terjang Putin dalam pembaharuan demokrasi ala Rusia yang disebut dengan Russokrasi, kesuksesan ekonomi yang diraih, dan pandangan-pandangan dunia internasional mengenai kebangkitan negara ini. Lessons for Indonesia Rusia adalah salah satu negara yang paling parah terkena dampak krisis ekonomi di tahun 1997. Setelah menimpa Thailand, efek domino krisis juga mengenai Indonesia dan negara lainnya di Asia. Termasuk Rusia pun tak luput dari efek tersebut. Namun Rusia bisa bangkit dalam tempo yang relatif lebih cepat. Mengapa demikian? Ini tak lain karena elite Rusia cepat tanggap dan langsung melakukan tindakan penyelamatan. Tapi di Indonesia, yang sibuk dengan diri sendiri, luput memetik pelajaran berharga dari Rusia. Bangkitnya Rusia tak lain akibat kesadaran bahwasanya IMF bukanlah lembaga penolong, namun malah lebih menghancurkan. Haduh, kalau anak gaul bilang sih: cape deeeh :D Ya, memikirkan pemerintahan kita sekarang yang berjalan entah juntrungannya kemana ini, lama-lama membuat saya makin senewen. Apalagi ngomongin tingkah elite politik di negeri ini, itu sama aja dengan membuang-buang waktu percuma. Ngga akan ada habisnya. Stuck! Jadi pesimis dengan kalimat di sampul belakang yang bertuliskan: Pembelajaran di pustaka ini patut disimak oleh pengamat kenegaraan, pengamat ekonomi, praktisi politik, hingga mereka yang mendalami studi hubungan internasional. Saya malah mendadak membayangkan para elite itu menggunakan buku ini sebagai kipas saat mereka terkantuk-kantuk di sidang kabinet. *beuh* Apakah kita akan selamanya tak bisa memetik hikmah dari apa yang dialami oleh Rusia? Only God knows… Bangkit Indonesia!

  2. 4 out of 5

    Agung

    Apa yang sedang terjadi di Rusia? Kenapa negara ini bangkit kembali dan menjelma jadi salah satu kekuatan besar di dunia? Vladimir Putin, jawab buku ini. Buku ini juga membeberkan gaya kepemimpinan yang diterapkan Rusia hingga menjadi seperti saat ini.

  3. 5 out of 5

    Pirhot

    Generasi di Indonesia, khususnya yang berada di pemerintahan Soekarno pasti merasakan bagaimana kerasnya pertarungan ideologi antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Sovyet (USSR). Antara demokratik-liberal-sekuler (AS) dengan komunis-totaliter (USSR). Pemerintahan Indonesia pun sempat condong kepada USSR sebagai pemimpin kutub politik “Timur” pada saat itu, meskipun Indonesia menginisiasi Gerakan Non-Blok yang mengklaim tidak berpihak pada kutub manapun. Ketika Indonesia mengalami krisis politik da Generasi di Indonesia, khususnya yang berada di pemerintahan Soekarno pasti merasakan bagaimana kerasnya pertarungan ideologi antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Sovyet (USSR). Antara demokratik-liberal-sekuler (AS) dengan komunis-totaliter (USSR). Pemerintahan Indonesia pun sempat condong kepada USSR sebagai pemimpin kutub politik “Timur” pada saat itu, meskipun Indonesia menginisiasi Gerakan Non-Blok yang mengklaim tidak berpihak pada kutub manapun. Ketika Indonesia mengalami krisis politik dan transisi pemerintahan pada tahun 1966, pengaruh antara kedua kutub masih terasa kental, tetapi Indonesia mulai mengubah orientasi politiknya ke arah “Barat” dan mulai menerapkan resep-resep pemerintahan ala barat. Pertarungan antara kedua kutub ini berakhir pada tahun 1990an, ketika Tembok Berlin diruntuhkan, yang kemudian diikuti dengan bersatunya Jerman, dan bubarnya USSR menjadi negara-negara yang independen. Dengan simbolisasi tersebut, tanda bahwa berakhirnya hegemoni komunis peta politik bumi menjadi semakin nyata, yang disertai pula dengan semakin homogennya konstalasi politik dunia yang hanya dikuasai oleh AS. Bubarnya USSR melahirkan beberapa negara-negara baru di wilayah Eropa Timur dan Asia Tengah. Negara terbesar hasil dari pecahan USSR adalah Rusia, yang juga menjadi pewaris kedigdayaan politik dari USSR. Rusia meneruskan kursi dari USSR di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan otomatis menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Meskipun Rusia mendapatkan warisan politik dari USSR, tetapi tidak dengan ideologinya. Komunisme yang telah dianut oleh USSR semenjak Revolusi Bolshevik pada tahun 1917 tidak lagi menjadi ideologi resmi negara. Komunisme dihancurkan di semua lini masyarakat Rusia. Mikhail Gorbachev membuat sebuah program yang menegaskan kondisi ini, yaitu dengan prestroika dan glasnost. Dengan orientasi politik seperti itu, saluran diplomatik dengan negara-negara Barat yang sebelumnya tabu untuk dilakukan, mulai diinisiasi oleh Rusia. Perubahan yang sangat fundamental di Rusia ini tak dapat dihindarkan berpengaruh kepada lini masyarakat. Ketika menganut paham komunisme, ekonomi dan politik sangatlah dikuasai oleh negara secara sentralistik. Program yang dilaksanakan oleh Gorbachev, diteruskan oleh Boris Yeltsin dengan sangat terbuka. Namun reformasi yang terjadi di Rusia tidak membuat kondisi sosial menjadi lebih baik dibandingkan dengan masa-masa komunisme. Keterbukaan terhadap modal asing tidak menjadikan perekonomian Rusia menjadi lebih baik. Donor yang diberikan oleh International Monetary Fund (IMF) hanya memperparah kondisi yang telah memburuk. Keuntungan hanya didapat oleh segelintir penduduk Rusia, yang tiba-tiba menjadi milyuner baru, dengan cara “merampok” negara. Buku ini menceritakan bagaimana mulainya keterpurukan Rusia sebagai penerus USSR di kancah politik dunia. Krisis politik, carut marutnya ekonomi, dan lemahnya militer, telah menjadikan Rusia sebagai negara besar yang tidak berdaya. Secara gamblang, Simon Saragih memaparkan fakta-fakta buruk yang disebabkan oleh donor dari lembaga-lembaga keuangan internasional, sekaligus tekanan dari AS terhadap politik lokal di Rusia. Milyuner-milyuner baru dari Rusia, yang disebutkan sebagai oligarki dalam buku ini, mulai menggerogoti Rusia dari dalam dan secara perlahan menghancurkan pranata ekonomi Rusia dengan melarikan uang bantuan luar negeri yang seharusnya masuk ke dalam kas negara. Tetapi kondisi hancur lebur yang dialami oleh Rusia mulai berubah semenjak dipilihnya Vladimir Vladimirovich Putin sebagai pejabat Presiden Rusia menggantikan Boris Yeltsin yang sakit-sakitan. Sikap politiknya yang tegas dan disiplin, telah mengantarkan Rusia untuk kembali meraih status sebagai ikon politik dunia dan mengalahkan hegemoni AS. Simon Saragih memang menempatkan Vladimir Putin dan pengikutnya yang merupakan eks-Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) yang dikenal dengan istilah siloviki sebagai pemegang peranan penting dalam bangkitnya kembali Rusia dari keterpurukan semasa pemerintahan Boris Yeltsin. Dengan duduknya Putin di pemerintahan disertai dengan siloviki yang menjadi pembantu-pembantu terpercayanya, Rusia berhasil meningkatkan kondisi masyarakatnya dalam segala aspek. Ekonomi, pertahanan, politik berhasil dibenahi kembali dan menyembuhkan krisis yang telah akut. Rusia yang tadinya hanya mengangguk-angguk kepada kebijakan AS terhadap politik internasional, mulai berani untuk melawan kesewenang-wenangan AS. Buku ini nampaknya ingin memberikan sebuah perspektif baru atas perbaikan politik dan ekonomi terhadap suatu negara. Selama ini, lembaga-lembaga keuangan internasional sangatlah dikontrol oleh kebijakan neo-konservatif yang ada di balik pemerintahan AS. Bukannya membantu, resep-resep yang ditawarkan oleh lembaga seperti IMF dan World Bank, justru semakin menjerumuskan negara pengutang dalam kondisi depresi ekonomi yang besar. Rusia dan Indonesia mengalami hal yang sama di thaun 1990an, tetapi Putin sebagai orang nomor satu di Rusia berani mengambil sikap untuk tidak diintervensi oleh AS dan kaki tangannya. Sementara Indonesia menyerahkan diri untuk digerogoti oleh mereka. Simon Saragih ingin menekankan, bahwa apa yang terjadi di Rusia dapat dijadikan sebagai sebuah role model bagi perubahan sosial. Dengan caranya sendiri, Rusia berhasil mengembalikan posisinya sebagai negara yang disegani di kancah internasional. Rusia tidak mau untuk diintervensi dengan negara asing, bahkan oleh adidaya seperti AS sekalipun. Hal inilah yang harus diperhatikan bagi Indonesia jika ingin mengembalikan stabilitas politik dan ekonomi seperti dulu. Indonesia harus menyadari bahwa kondisi di negara Barat tidaklah sama dengan di dalam negeri, sehingga tidak mungkin mengimplementasikan resep-resep ekonomi dari IMF dan World Bank secara bulat-bulat di Indonesia. Semoga apa yang dicita-citakan Simon Saragih, dan tentunya kita semua, bahwa Indonesia kembali dari keterpurukan, dapat terwujud melalui inspirasi yang dilakukan oleh Putin terhadap Rusia.

  4. 4 out of 5

    Franditya

    Masih baca bab-bab awal, tapi kira-kira seperti ini, krisis ekonomi global tak lepas dari peran IMF dan lembaga keuangan dunia yang telah membuat desain kebijakan ekonomi sebagai obat mujarab krisis. ternyata obat mujarab itu justru menjadi racun mematikan. Jumlah penduduk miskin di Republik Federasi Rusia di bawah Uni Soviet mencapai sekitar 2 persen dari seluruh 15 negara bagian. Namun, sejak tembok Berlin runtuh, orang-orang miskin naik sampai 50 persen di tiap negara bagian. Semua itu hasil Masih baca bab-bab awal, tapi kira-kira seperti ini, krisis ekonomi global tak lepas dari peran IMF dan lembaga keuangan dunia yang telah membuat desain kebijakan ekonomi sebagai obat mujarab krisis. ternyata obat mujarab itu justru menjadi racun mematikan. Jumlah penduduk miskin di Republik Federasi Rusia di bawah Uni Soviet mencapai sekitar 2 persen dari seluruh 15 negara bagian. Namun, sejak tembok Berlin runtuh, orang-orang miskin naik sampai 50 persen di tiap negara bagian. Semua itu hasil karya Oligarki Rusia, Gorbachev dan Amerika Serikat beserta IMF. Transisi politik dan ekonomi terjadi sedari 1989 sampai akhir 90an, sampai akhirnya Putin menolak skema pembangunan ekonomi yang diberikan IMF dan berhasil membawa Rusia keluar dari jerat krisis. Satu hal yang menarik dari "Bangkitnya Rusia", kenyataan bahwa Putin tak memerlukan demokrasi atau retorika HAM untuk membangun bangsanya. Tabik!

  5. 5 out of 5

    Dimas Andhika Fikri

    Buku pinjaman yg akhirnya menjadi milik pribadi hahaa, thx Abang Munir (kepala suku). Waktu itu minjem karena dulu ngambil mata kuliah Politik Luar Negeri Rusia. All over, buku ini cukup baik dalam memberikan informasi terkait sejarah maupun fluktuasi keadaan politik Rusia. Terlebih lagi ketika Rusia mengalami kehancuran ekonomi yang sangat parah sehingga harus ditopang oleh bantuan IMF akibat dampak runtuhnya Uni Soviet. Mengingat Rusia berusaha mencoba kembali mewujudkan cita-cita lama menjadi Buku pinjaman yg akhirnya menjadi milik pribadi hahaa, thx Abang Munir (kepala suku). Waktu itu minjem karena dulu ngambil mata kuliah Politik Luar Negeri Rusia. All over, buku ini cukup baik dalam memberikan informasi terkait sejarah maupun fluktuasi keadaan politik Rusia. Terlebih lagi ketika Rusia mengalami kehancuran ekonomi yang sangat parah sehingga harus ditopang oleh bantuan IMF akibat dampak runtuhnya Uni Soviet. Mengingat Rusia berusaha mencoba kembali mewujudkan cita-cita lama menjadi negara adidaya dan berhasrat merangkul kembali negara-negara pecahan uni soviet, strategi maupun manuver-manuver politik mereka dapat dipelajari secara ringkas pada buku ini. Selain itu, sedikit surprise karena owner Chelsea Football Club yaitu Roman Abramovich sempat di bahas pada buku ini haha. segitu aja deh bye.

  6. 5 out of 5

    Andika Abdul Basith

    Yeltsin telah membuat Beruang Merah menjadi Babi yang lucu dan menghamba pada Amerika. Tetapi dibawah Putin, Sang Beruang bangkit. Menendang keluar asing yang selalu mempengaruhi kebijakan Rusia. Dimulai dengan ditendangnya oligarki yang menguasai sumber daya alam Rusia. Meskipun banyak kritikan terhadap dirinya yang dianggap "tidak demokratis", faktanya Putin hanya menginginkan Rusia yang kuat! "sekian lama kita menghamba ke Barat, tapi apa yang kita dapatkan selain kehancuran?" Katanya tegas..

  7. 4 out of 5

    Ammelia

    nope

  8. 4 out of 5

    Andar Hermawan

    Buku yang lumayan bagus bila ingin mengetahui bagaimana Rusia hancur dan bangkit kembali dibawah kepemimpinan Putin dkk. Cukup ringkas bila tak perlu penjelasan yang dalam.

  9. 5 out of 5

    Indah Threez Lestari

    685th - 2011

  10. 5 out of 5

    Oyong

  11. 5 out of 5

    Aji

  12. 5 out of 5

    Dama

    I wanna know about whatrussia's efforts ro raise it...

  13. 4 out of 5

    Maulana

  14. 4 out of 5

    Alfonsus

  15. 5 out of 5

    Helvy

  16. 5 out of 5

    Widya

  17. 5 out of 5

    Fikri Ghozali

  18. 4 out of 5

    Dimas

  19. 4 out of 5

    Praditia

  20. 5 out of 5

    Masgalih

  21. 4 out of 5

    Ninit

  22. 5 out of 5

    Ronair Rahman

  23. 4 out of 5

    Andra

  24. 5 out of 5

    Candra Syamsuar

  25. 5 out of 5

    Rifky Ferdiansyah

  26. 4 out of 5

    Рачо Рапана

  27. 5 out of 5

    Faaqih Irfan

  28. 5 out of 5

    Irsyad Oktabrian

  29. 5 out of 5

    Muhammad Najmuddin

  30. 5 out of 5

    Anurag Jain

  31. 5 out of 5

    Asna

  32. 5 out of 5

    Ozzy

  33. 4 out of 5

    Atika Budi

  34. 5 out of 5

    Fedhita

  35. 5 out of 5

    Nisya Agusti

  36. 5 out of 5

    Jessica S

  37. 4 out of 5

    Dessy

  38. 4 out of 5

    Ekha Putra

  39. 5 out of 5

    Sinder 'emes'

  40. 4 out of 5

    Evan

  41. 4 out of 5

    Virgie

  42. 4 out of 5

    Yuli Juliawati

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.