counter create hit Mochtar Lubis: Wartawan Jihad - Download Free eBook
Ads Banner
Ads Banner

38 review for Mochtar Lubis: Wartawan Jihad

  1. 5 out of 5

    Azia

    Saya pernah mendapatkan tugas kuliah menulis tentang sosok idola yang dikagumi. Dan saya pun menuliskan idola saya, Mochtar Lubis. Buku ini sangat membantu saya mengenal lebih dekat Mochtar Lubis. ---------- Mochtar Lubis mendirikan harian Indonesia Raya pada 29 Desember 1949 sekaligus menjadi pemimpin redaksi dari harian tersebut. Harian Indonesia Raya tidak memiliki afiliasi dengan partai politik tertentu (dimana kondisi saat itu setiap partai politik memiliki surat kabar sendiri). Karakter Moc Saya pernah mendapatkan tugas kuliah menulis tentang sosok idola yang dikagumi. Dan saya pun menuliskan idola saya, Mochtar Lubis. Buku ini sangat membantu saya mengenal lebih dekat Mochtar Lubis. ---------- Mochtar Lubis mendirikan harian Indonesia Raya pada 29 Desember 1949 sekaligus menjadi pemimpin redaksi dari harian tersebut. Harian Indonesia Raya tidak memiliki afiliasi dengan partai politik tertentu (dimana kondisi saat itu setiap partai politik memiliki surat kabar sendiri). Karakter Mochtar Lubis yang dikenal sebagai seorang yang pemberani dan kritis tanpa tendeng aling-aling ikut mempengaruhi ciri dari harian Indonesia Raya. Jika dilihat kondisi saat itu hubungan pers dan pemerintah bagaikan kucing dan anjing. Pemerintah lebih menyenangi berita-berita “bagus” seperti kunjungan pejabat si anu, keberhasilan program ini itu. Kesewenang-wenangan terhadap rakyat kecil haram disiarkan secara luas. Untuk itulah Departemen Penerangan ada, mengawasi berita-berita yang disiarkan media dan melakukan pembredelan jika terdapat berita yang menyinggung perasaan pejabat. Indonesia Raya sebagai koran yang kritis pun tak luput dari pembredelan. Tak hanya itu, Mochtar Lubis dan wartawan Indonesia Raya ikut ditahan. Berita – berita yang dicetak memang cukup sensasional dan kontroversial. Ada beberapa peristiwa penting yang paling disoroti pada zaman itu. Pertama,(1951) keputusan Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo menerima bantuan Amerika Serikat berdasarkan syarat-syarat Mutual Security Act (MSA) yang tanpa diketahui oleh panglima TNI. Kedua,(1954) pernikahan diam-diam Presiden Soekarno dengan Hartini. Ketiga, berkenaan dengan menteri luar negeri Roeslan Abdulgani sehubungan dengan peristiwa penggelapan uang yang dilakukan oleh Lie Tok Thay, wakil direktur percetakan negara kementerian penerangan. Keempat, pemuatan surat-surat pembelaan diri Letkol Zulkifli Lubis (tokoh PRRI) dari tempat persembunyian yang menolak tuduhan pemerintah yang menyatakan dirinya melakukan percobaan kudeta. Kelima, pengambilalihan pemerintah sipil Gubernur Ruslan Muljohardjo oleh Letkol Ahmad Husein, Ketua Dewan Banteng. Dua berita terakhir yang saya sebutkan di atas, membuat Mochtar Lubis sebagai pemimpin redaksi dari harian Indonesia Raya ditahan oleh Corps Polisi Militer (CPM) pada tanggal 21 Desember 1956. Ia dicurigai mempunyai hubungan dengan komplotan Letkol Zulkifli Lubis. Akibatnya, CPM melakukan sensor atas naskah yang akan dimuat di koran. Kondisi seperti itu mengakibatkan terjadinya perselisihan internal dengan Hasjim Mahdan, salah satu dari tiga pemilik modal. Menteri Penerangan Sudibjo menyampaikan usulan kompromi kepada Hasjim Mahdan; surat kabar boleh terus terbit, bahkan akan diberikan bantuan keuangan, jika Mochtar Lubis mengundurkan diri . Tentu saja tawaran dari menteri ini ditolak mentah-mentah oleh Mochtar Lubis. Jadilah harian Indonesia Raya diterbitkan dua versi, satu versi dari kubu Mochtar Lubis dan versi lainnya oleh kelompok Hasjim Mahdan. Hasjim Mahdan lebih didukung oleh pemerintah dengan memberikan surat izin terbit (SIT) kepada Indonesia Raya versi Hasjim Mahdan. Uniknya, perseteruan dari dua pemilik modal harian ini menjadi headline Indonesia Raya versi Mochtar Lubis. Berkat dukungan pembaca yang setia terhadap Mochtar Lubis, Indonesia Raya versi Hasjim Mahdan tidak bertahan lama. Penahanan Mochtar Lubis akhirnya memberhentikan operasi Indonesia Raya. Pembredelan yang cukup lama seiring dengan masa penahanan Mochtar Lubis yaitu sembilan tahun. Dukungan dan upaya pembebasan oleh rekan-rekan wartawan baik dalam negeri bahkan luar negeri tidak digubris oleh pemerintah. Selama di balik dinding penjara, tidak menyurutkan Mochtar Lubis untuk berhenti menulis, berhenti mengkritik atau menjadi hilang akal. Catatan-catatan harian di dalam penjara dibukukan dalam Catatan Subversif. Ia menuliskan apa saja yang menjadi buah pikirannya. Entah itu mengenai kondisi penjara, tahanan, perkembangan kasusnya, puisi, dan sketsa. Novel – novel yang berjudul Senja di Jakarta dan Tanah Gersang ditulisnya saat di penjara. Hal yang membuat saya bertambah kagum adalah sikap lapang dada yang diutarakannya. Walau nasibnya di penjara dibiarkan terkatung-katung oleh pemerintah dan tidak ada persidangan selama beberapa tahun. Ia masih memandang positif terhadap hidupnya. Ia menganggap waktu penahanannya merupakan waktu yang bagus untuk membaca dan menulis yang sulit dia lakukan ketika masih sibuk bekerja. Ia juga belajar beberapa bahasa asing dan menerjemahkan cerita dari luar negeri . Ia masih tetap kritis terhadap kondisi negara dari dalam penjara. Tulisan-tulisannya itu dimuat di media dengan nama kecilnya, Mochtar atau anonim sekalian. Perjuangan dalam menegakkan kebebasan pers membuatnya mendapatkan Raymond Magsaysay Award untuk bidang jurnalistik. Mochtar Lubis adalah prototipe wartawan yang murni yang menulis untuk kepentingan rakyat, yang memegang teguh prinsip dan kode etik jurnalistik dengan berani. Ia lebih memilih surat kabarnya ‘mati’, dibandingkan ‘hidup’ tetapi harus berkompromi dengan pemerintah. Akhirnya Mochtar Lubis bebas dan tuduhannya tidak terbukti. Pergantian pemerintah dari orde lama ke orde baru menimbulkan harapan baru untuk Mochtar Lubis. Dengan bantuan material berupa alat-alat percetakan dari kalangan swasta luar negeri, Indonesia Raya kembali terbit pada 30 Oktober 1968. Pada tajuk edisi perdana periode 2, Indonesia Raya menyatakan dukungannya kepada presiden Suharto dan tetap akan memberikan kritikan bila dianggap perlu. Setelah pemerintahan orde baru berjalan, kondisi bangsa tetap tak berubah. Rakyat masih banyak yang hidup kekurangan dibawah garis kemiskinan, sementara pejabat sibuk memperkaya diri masing-masing. Korupsi tetap terjadi seperti pada orde lama. Indonesia Raya memberikan liputan yang tajam mengenai korupsi. Yang paling disoroti adalah kasus ketidakberesan dalam manajemen Pertamina. Indonesia Raya giat mengungkapkan praktik-praktik korupsi yang terjadi di tubuh Pertamina. Sementara media cetak lainnya malah menuduh “ada udang di balik batu” atas pemberitaan kasus Pertamina tersebut . Kasus korupsi Pertamina yang diberitakan Indonesia Raya disebut-sebut merupakan awal dari Mucracking Journalism (cikal bakal dari Investigative Journalism) di Indonesia. Periode yang kedua ini, amat bersentuhan dengan pergerakan mahasiswa, yang ketika itu mulai bergejolak. Indonesia Raya menyatakan dukungannya terhadap aksi mahasiswa yang memprotes proyek Miniatur Indonesia Indah (TMII). Namun yang paling penting adalah peristiwa 15 Januari 1974. Protes mahasiswa terhadap modal asing yang berasal dari Jepang memanaskan iklim politik saat itu. Kekhawatiran terhadap akan adanya campur tangan Jepang terhadap urusan negara Indonesia membuat mahasiswa turun kembali ke jalan. Kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, rencananya akan disambut oleh demonstrasi mahasiswa. Tanpa diduga, peristiwa menjadi kerusuhan yang anarkis, mobil merek Jepang dirusak, Pasar Senen dilaporkan terbakar. Asal muasal tindakan anarkis tidak diketahui siapa yang menjadi dalangnya dan menjadi misteri hingga kini. Terdapat beberapa kontraversi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas huru hara. Sejarah mencatat peristiwa itu dengan tinta hitam, peristiwa Malari. Esoknya 16 Januari 1974, Indonesia Raya tak ketinggalan memberitakan hari yang bersejarah itu. Dan hari berikutnya halaman depan Indonesia Raya masih dipenuhi dengan foto-foto demonstrasi mahasiswa dan upaya aparat untuk menanggulangi kebakaran . Peristiwa Malari menyebabkan beberapa tokoh dan aktivis mahasiswa ditahan, Adnan Buyung Nasution, Jusuf AR dan Jessy Monintja (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia ). Pemberitaan Peristiwa Malari dinilai sebagai upaya penghasutan terhadap masyarakat oleh pemerintah. Tanggal 21 Januari 1974, merupakan hari terakhir terbitnya Indonesia Raya. Pembredelan ini membungkam Indonesia Raya selamanya. Tidak hanya Indonesia Raya yang ditutup, sekitar dua belas surat kabar dan majalah ikut dibredel. Dan pembredelan ini merupakan awal dari terbelenggunya kebebasan pers dan kebebasan berpendapat. Mochtar Lubis dan beberapa wartawan Indonesia Raya kembali ditahan. Catatan selama di Kamp Nirbaya, diterbitkan dengan judul Kampdagboek di Belanda dan belum pernah diterbitkan di Indonesia. Sementara itu belenggu tersebut sekian lama menghantui dunia jurnalistik. Pers menjadi lebih berhati-hati dan cenderung ‘cari aman’ terhadap pemerintah Presiden Soeharto. Yang akhirnya belenggu itu terbuka saat lengsernya Presiden Soeharto dari kursi kekuasaannya mei 1998. Mochtar Lubis berhasil memberikan pengaruhnya bagi saya yaitu motivasi untuk membaca dan menulis. Dalam hal membaca, sejak kecil saya memang suka membaca. Saya menetapkan target minimal setiap minggu ada satu buku yang selesai saya baca. Tetapi saya tidak begitu suka menulis. Saat ini pun saya masih dalam belajar menulis. Kenapa saya katakan masih belajar menulis? Saya belum mempunyai sifat dari Mochtar Lubis yaitu berani. Saya masih terbentur dengan dinding-dinding pikiran. Menurut saya, menulis itu butuh kebebasan berpikir sehingga ia bisa menulis apa saja tanpa terbebani budaya, agama, dan latar belakang penulisnya. Untuk menebus dinding-dinding itu, saya harus berani. Seperti penulis-penulis yang menorehkan katanya dengan ‘darahnya’, rela dicaci, dikutuk, dianggap gila hingga diasingkan oleh bangsanya sendiri. Selain itu, tulisan-tulisan Mochtar Lubis membuat pandangan saya lebih terbuka dan memicu saya untuk berpikir kritis. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang berkutat pada debet dan kredit. Untuk itu, saya memperbanyak tema bacaan diluar latar belakang pendidikan saya (akuntansi) seperti sastra, sejarah, budaya, dan politik. Mochtar Lubis memang telah tiada. Namanya akan tetap tertulis di hati para pengagumnya. Kisah hidupnya dapat memotivasi generasi muda untuk berpikir kritis, menulis dan peduli dengan lingkungan sekitar. ------------- nb : dan saya pun dapat nilai bagus untuk makalah ini ^^

  2. 4 out of 5

    Wella Madjid

    Pertama-tama saya suka dengan judul buku ini: "WARTAWAN JIHAD". Isinya sungguh menguatkan batin dan pikiran, agar tetap konsisten dan amanah dalam 'berjihad' sehari-hari di manapun demi laporan-laporan terbaik. Sangat di-rekomendasikan untuk para jurnalis pertengahan 30-an yang sering galau macam saya ini! :-) Apakah tepat meniti karir sebagai wartawan lapangan dengan cobaan yang sesekali datang bertubi-tubi, atau pindah menekuni bidang lain yang aman untuk perempuan. Tetapi setelah sepuluh tahu Pertama-tama saya suka dengan judul buku ini: "WARTAWAN JIHAD". Isinya sungguh menguatkan batin dan pikiran, agar tetap konsisten dan amanah dalam 'berjihad' sehari-hari di manapun demi laporan-laporan terbaik. Sangat di-rekomendasikan untuk para jurnalis pertengahan 30-an yang sering galau macam saya ini! :-) Apakah tepat meniti karir sebagai wartawan lapangan dengan cobaan yang sesekali datang bertubi-tubi, atau pindah menekuni bidang lain yang aman untuk perempuan. Tetapi setelah sepuluh tahun saya memilih untuk tetap menjadi jurnalis. Membaca buku ini semakin menguatkan semangat itu. Sudah lama saya tahu buku 'WARTAWAN JIHAD', tetapi baru tahun lalu memilikinya secara pribadi. Ia turut menemani perjalanan 6 hari saya menelusuri kota Beijing, dengan aneka macam topik bahasan yang ditulis dengan gaya khas Bung Mochtar Lubis. Kadang-kadang santai, sering juga serius, dan sudah pasti tegas dan punya sikap dalam berkomentar mulai dari persoalan limbah impor, obrolannya dengan Profesor Emil Salim, soal wartawan amplop, hingga cibiran dari sejumlah rekan sesama wartawan tentang kebiasaan Mochtar ikut konferensi-konferensi di luar negeri. Bagian yang paling berkesan dan salut tentu bab-bab yang mengisahkan pembredelan Harian Indonesia Raya yang ia punya, perjuangannya untuk tetap menghidupkan pers yang idealis dan mandiri, dan keperduliannya yang sangat tinggi terhadap isu korupsi dan lingkungan hidup; dua isu yang masih ada sampai sekarang di Indonesia, malahan makin menuai masalah termasuk buat yang menuliskan topik-topik itu. Godaan buat wartawan itu banyak sekali; dari mulai duit dalam amplop, narasumber top yang super egois, presiden yang gampang merajuk pada hasil kerja-kerja pers, sampai kekerasan fisik dari aparat atau orang-orang 'jahat' terutama bagi wartawan yang bekerja di daerah-daerah konflik. Beruntung saya belum pernah menerima ancaman berat itu secara langsung. Maka buku ini, dengan segala pengalaman yang Bung Mochtar punya, sangat relevan dan penting di baca. Ia seorang yang berani pada jamannya. Ia pernah mendapat penghargaan ramon magsaysay tahun 1958, lalu bolak balik masuk penjara tanpa peradilan di masa orla dan orba. Bersama Ibu Halimah, istrinya, ia hidup dan menjadi saksi sejarah kejatuhan orde lama, demonstrasi malari, skandal korupsi pertamina, dan lain-lain. Laki-laki Batak kelahiran Padang ini meninggal di Jakarta tahun 2004 akibat penyakit alzheimer, tiga tahun setelah istrinya meninggal.

  3. 5 out of 5

    Dinda Larasati

    Karena buku ini, saya juga ingin menjadi a muckraking journalist.

  4. 4 out of 5

    Gilang Permana

    Sosok Mochtar Lubis di mata orang terdekatnya

  5. 4 out of 5

    Nurul Firdaus

  6. 5 out of 5

    Eka Sari

  7. 5 out of 5

    Deni Aria

    Buku yang menggerakan jiwa!

  8. 5 out of 5

    Dwi Cahya Yuniman

  9. 5 out of 5

    Rainny Dewi

  10. 4 out of 5

    sawung

  11. 4 out of 5

    Riza

  12. 4 out of 5

    Djony Herfan

  13. 4 out of 5

    Made Widiyasa

  14. 4 out of 5

    Ester Silitonga

  15. 4 out of 5

    Romy Laksono

  16. 5 out of 5

    Achmad F Nurghani

  17. 5 out of 5

    Taufiq Sidik

  18. 4 out of 5

    Hari Istiawan

  19. 5 out of 5

    Ven Ven

  20. 5 out of 5

    Sarwono

  21. 5 out of 5

    Ivan

  22. 4 out of 5

    Arya

  23. 5 out of 5

    Riana Dewi

  24. 5 out of 5

    Diajeng Sekar

  25. 4 out of 5

    Shinta Mudrikah

  26. 5 out of 5

    Feizurrahman

  27. 5 out of 5

    Prasad

  28. 5 out of 5

    Husnauna

  29. 5 out of 5

    Dimas

  30. 4 out of 5

    Ayipryuzaki

  31. 5 out of 5

    Nur

  32. 5 out of 5

    Elizabeth Lubis

  33. 4 out of 5

    Michel Irarya

  34. 5 out of 5

    Lazu Arman

  35. 5 out of 5

    Alfi Widoretno

  36. 5 out of 5

    Thiago Messi

  37. 5 out of 5

    Sani Zebua

  38. 4 out of 5

    Aisyah Fitri

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.