counter create hit Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang - Download Free eBook
Hot Best Seller

Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang

Availability: Ready to download

Berapa jumlah korban tewas? Menurut Fact Finding Commision di bawah pimpinan Mayjen Dr Soemarno sekitar 80.000 orang. Namun Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo memberikan taksiran tiga juta orang. “Bunuh aku,” perintah Kolonel (Inf) Abdul Latief, Komandan Brigif I/ Djaja Sakti, ketika disergap. Tempurung kaki kirinya ditembak, paha kanannya ditusuk bayonet teta Berapa jumlah korban tewas? Menurut Fact Finding Commision di bawah pimpinan Mayjen Dr Soemarno sekitar 80.000 orang. Namun Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo memberikan taksiran tiga juta orang. “Bunuh aku,” perintah Kolonel (Inf) Abdul Latief, Komandan Brigif I/ Djaja Sakti, ketika disergap. Tempurung kaki kirinya ditembak, paha kanannya ditusuk bayonet tetapi dia baru diajukan ke Mahmilti 15 tahun kemudian. “Kita sudah kalah,” keluh Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur Mandau, sambil terduduk di lantai, begitu mendengar Presiden Soekarno mengeluarkan perintah cease fire pada Jumat sore 1 Oktober 1965. Letkol (Inf) Untung Sjamsuri, Komandan G30S, menulis surat permintaan maaf, mendengar anak buahnya tanpa sengaja telah menembak mati seorang anggota Polri. Demikian sederetan catatan Julius Pour ketika menyusun kembali jigsaw puzzle mengenai sebuah peristiwa dahsyat yang berlangsung 45 tahun lalu. Diawali dengan Malam Jahanam berupa penculikan terhadap sejumlah Jenderal Angkatan Darat, dilanjutkan dengan pembunuhan. Riak ombak kecil tersebut ternyata merupakan awal gelombang raksasa yang akhirnya melanda seluruh penjuru Indonesia. Menumbangkan pemerintahan Orde Lama sekaligus memunculkan Orde Baru. Demikian sederetan catatan Julius Pour ketika menyusun kembali jigsaw puzzle mengenai sebuah peristiwa dahsyat yang berlangsung 45 tahun lalu. Diawali dengan Malam Jahanam berupa penculikan terhadap sejumlah Jenderal Angkatan Darat, dilanjutkan dengan pembunuhan. Riak ombak kecil tersebut ternyata merupakan awal gelombang raksasa yang akhirnya melanda seluruh penjuru Indonesia. Menumbangkan pemerintahan Orde Lama sekaligus memunculkan Orde Baru.


Compare

Berapa jumlah korban tewas? Menurut Fact Finding Commision di bawah pimpinan Mayjen Dr Soemarno sekitar 80.000 orang. Namun Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo memberikan taksiran tiga juta orang. “Bunuh aku,” perintah Kolonel (Inf) Abdul Latief, Komandan Brigif I/ Djaja Sakti, ketika disergap. Tempurung kaki kirinya ditembak, paha kanannya ditusuk bayonet teta Berapa jumlah korban tewas? Menurut Fact Finding Commision di bawah pimpinan Mayjen Dr Soemarno sekitar 80.000 orang. Namun Komandan RPKAD Kolonel (Inf) Sarwo Edhie Wibowo memberikan taksiran tiga juta orang. “Bunuh aku,” perintah Kolonel (Inf) Abdul Latief, Komandan Brigif I/ Djaja Sakti, ketika disergap. Tempurung kaki kirinya ditembak, paha kanannya ditusuk bayonet tetapi dia baru diajukan ke Mahmilti 15 tahun kemudian. “Kita sudah kalah,” keluh Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur Mandau, sambil terduduk di lantai, begitu mendengar Presiden Soekarno mengeluarkan perintah cease fire pada Jumat sore 1 Oktober 1965. Letkol (Inf) Untung Sjamsuri, Komandan G30S, menulis surat permintaan maaf, mendengar anak buahnya tanpa sengaja telah menembak mati seorang anggota Polri. Demikian sederetan catatan Julius Pour ketika menyusun kembali jigsaw puzzle mengenai sebuah peristiwa dahsyat yang berlangsung 45 tahun lalu. Diawali dengan Malam Jahanam berupa penculikan terhadap sejumlah Jenderal Angkatan Darat, dilanjutkan dengan pembunuhan. Riak ombak kecil tersebut ternyata merupakan awal gelombang raksasa yang akhirnya melanda seluruh penjuru Indonesia. Menumbangkan pemerintahan Orde Lama sekaligus memunculkan Orde Baru. Demikian sederetan catatan Julius Pour ketika menyusun kembali jigsaw puzzle mengenai sebuah peristiwa dahsyat yang berlangsung 45 tahun lalu. Diawali dengan Malam Jahanam berupa penculikan terhadap sejumlah Jenderal Angkatan Darat, dilanjutkan dengan pembunuhan. Riak ombak kecil tersebut ternyata merupakan awal gelombang raksasa yang akhirnya melanda seluruh penjuru Indonesia. Menumbangkan pemerintahan Orde Lama sekaligus memunculkan Orde Baru.

30 review for Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang

  1. 5 out of 5

    Pradnya Paramitha

    Dulu ketika saya masih SMA, saya selalu berpikir gerakan 30 September, atau yang ternyata 1 Oktober dini hari, dilakukan oleh PKI. Dengan kata lain, Aidit dan anak buahnya yang menculik dan membunuh para jenderal besar dan membantai masyarakat tak berdosa. lalu angkatan darat dipimpin Soeharto tampil sebagai pahlawan memberantas komunis ateis sampai ke akar-akarnya, menyelamatkan kehidupan negara dari kehancuran dan kekafiran. Barangkali begitulah cara guru SD saya menerangkan peristiwa ini atau Dulu ketika saya masih SMA, saya selalu berpikir gerakan 30 September, atau yang ternyata 1 Oktober dini hari, dilakukan oleh PKI. Dengan kata lain, Aidit dan anak buahnya yang menculik dan membunuh para jenderal besar dan membantai masyarakat tak berdosa. lalu angkatan darat dipimpin Soeharto tampil sebagai pahlawan memberantas komunis ateis sampai ke akar-akarnya, menyelamatkan kehidupan negara dari kehancuran dan kekafiran. Barangkali begitulah cara guru SD saya menerangkan peristiwa ini atau bagaimana, entahlah. Yang jelas, saya yakin PKI itu jahat. Lalu saat awal-awal saya menjadi mahasiswa, berkumpul dengan mahasiswa lain, mulai terbuka dengan persepsi alternatif yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya, saya tahu bahwa Gerakan 30 September itu bukan bikinan PKI. Saya yakin bahwa 30 September adalah rekayasa Soeharto dengan bantuan CIA, sengaja mengkudeta Soekarno, dan mengkambing hitamkan PKI sebagai musuhnya. Lalu saya yakin bahwa Soeharto itu jahat. Dan sekarang, di tahun-tahun akhir saya menjadi mahasiswa, kebetulan menemukan buku ini di perpus, menyelesaikannya dalam waktu seminggu, kini saya tak yakin siapa yang jahat dan siapa yang tidak bersalah. Metode tulisan Bapak Julius Pour yang menyodorkan begitu banyak fakta dari berbagai persepsi, lengkap dengan kutipan-kutipan, saya benar-benar bingung, sebenarnya ada apa di tanggal 1 Oktober dini hari 49 tahun yang lalu? Tujuh orang jenderal dibunuh, dan dimasukkan ke sumur Lubang buaya, oke, saya paham. yang melakukan pembunuhan dan penculikan adalah gabungan antara Pasukan cakrabirawa (pengawal presiden) dan angkatan darat di bawah kepemimpinan Letkol Untung Samsuri, saya masih paham. Pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September sempat menguasai Halim dan RRI selama beberapa jam tapi RPKAD (angkatan darat) dalam waktu singkat bisa melumpuhkan gerakan tersebut, sampai sini saya masih paham. Tapi siapakan dalang di balik gerakan itu, benar-benar kabur. Gerakan 30 September dengan dalih ingin menyelematkan Presiden soekarno dari Dewan Jenderal yang kabarnya akan mengadakan kudeta, sehingga perlunya Angkatan Darat dibersihkan dari Jenderal-Jenderal yang diam-diam menentang Soekarno tersebut. namun pada akhir gerakan, setelah tujuh jenderal tewas, justru gerakan 30 September yang dituduh melakukan kudeta. Lalu apa hubungannya dengan PKI? Dua orang anggota biro chusus PKI, Sjam dan Pono (konon diberi wewenang khusus dari Aidit) ternyata menjadi bagian dari pelaku gerakan tersebut. Aidit sendiri tidak di Jakarta ketika peristiwa itu terjadi. Dia sedang berada di pelarian (atau semacam itu) hingga akhirnya tertembak di Boyolali (kalau tidak salah). Dari kebingungan saya tentang kekaburan dalang peristiwa tersebut, yang akhirnya merembet kemana-mana dan tragisnya berujung pada pembantaian massal tokoh, anggota, simpatisan, yang diduga simpatisan, yang diduga berhubungan dengan PKI, saya membuat analis baru. Barangkali gerakan 30 september memang hanyalah aksi pemberontakan gagal, yang dilakukan oleh orang-orang tidak profesional, dan barangkali memang ada tangan-tangan tak terlihat di belakang mereka. Bisa jadi PKI, bisa jadi Angkatan darat sendiri. Sementara itu tokoh-tokoh yang diajukan ke Mahmilub sebagai tersangka Gerakan, barangkali hanyalah wayang yang sebenarnya tak tahu apa yang mereka lakukan. Untung Samsuri, Jenderal Soepardjo, dan yang lain, barangkali memang hanya benar-benar berniat menyelamatkan Bung Karno sebagai bukti kesetiaan mereka kepada Pemimpin besar Revolusi, dari Dewan jenderal yang diduga hendak mengacau Pancasila. Namun Dewan jenderal itu sendiri ada atau tidak, tidak jelas juga. Suasana waktu peristiwa yang digambarkan di buku benar-benar kabur dan kacau. Saya tidak tahu mana kawan dan mana lawan. karena si jahat dan si baik berhubungan dengan sangat akrab, begitu juga dengan si tidak-tahu-apa-apa yang hanya tahu bagaimana menjaga negara. Dan PKI, barangkali PKI memang akan melakukan hal itu jika diberi kesempatan lebih lama. Kita lihat saja, partai-partai PKI di luar negeri (sovyet dan Khamr Merah) bukankah sudah menunjukkan gelagat pemerintahan yang kejam luar biasa. Barangkali jika PKI tidak diberantas saat itu dan benar-benar memegang tampuk kekuasaan Indonesia, rezim Stalin dan Khamr merah akan terjadi di Indonesia, barangkali. Hanya saja, ternyata PKI kalah cepat. Mengenai keterlibatan PKI di G30S, ya bisa jadi. Tapi sepertinya hanya oknum-oknum tertentu (barangkali Aidit dan Biro chususnya), yang tragisnya berdampak bagi semua anggota atau blablabla dengan PKI. Bisa jadi isu dewan jenderal itu sengaja dihembuskan oleh Aidit atau oknum-oknum di angkatan darat untuk memancing rasa nasionalisma dan kesetiaan perwira-perwira revolusioner. Ketika isu tersebut menjadi keyakinan, kan mudah saja menggerakkan orang. Entah Soeharto, entah Aidit, entah CIA, entah siapa, pasti ada 'seseorang' di balik G30S. Dan PKI barangkali sedang sial. Mengenai keterlibatan AURI, dari uraian penulis, rasanya saya agak sulit menerima. Saya kok merasanya AURI ini tidak tahu apa-apa, semacam the right man in the wrong place. Beberapa oknum seperti Mayor Soejono dan Gatot Soekrisno barangkali memang terlibat tindak penculikan itu, namun saya ragu mereka benar-benar mengerti apa yang sedang mereka lakukan. Dan kesalahan terbesar Angkatan Darat (dalam persepsi saya, entah bagaimana secara hukum dan militer) adalah mempersenjatai masyarakat sipil, memberikan latihan militer untuk menumpas orang-orang PKI. Bayangkan, pemuda karang taruna, Ibu-ibu PKK, Santri-santri pesantren, dipersenjatai dan secara implisit diberi wewenang untuk membunuh orang-orang PKI.Sementara terkadang kecemburuan dalam masyarakat tidak hanya karena ideologi. Kecemburuan ekonomi misalnya, atau kecemburuan dalam arti bahasa, cemburu karena cinta. Masyarakat sipil dihadapkan pada masyarakat sipil, tentu saja perang saudara. entah itu 500.000 atau 1.000.000 atau 3.000.000 korban yang tewas, itu tetap tragedi kemanusian yang mengerikan. mendengar ada 7 orang tewas dalam kecelakaan kereta pekan ini saja rasanya sudah begitu buruk, apalagi 3 juta? Jadi apapun yang terjadi pada tanggal 1 Oktober dini hari, siapapun dalangnya, apapun maksudnya, masih seburam kertas buram bagi saya. Tapi yang benderang adalah efek kedepannya. Membunuh semua orang anggota PKI karena beberapa orang diantaranya terlibat kudeta, katakanlah, terasa agak kekanak-kanakan. Saya selalu bergurau, ya wajar sih, waktu itu Indonesia baru berapa tahun? 20 tahun. Masih remaja labil. Semoga dengan berkaca pada sejarah kelam itu, kita jadi lebih bijak menyikapi problem. Terima kasih Pak Julius Pour telah menulis buku menakjubkan ini dan sukses membuat saya bingung sekaligus mengerti. Mengerti dalam kebingungan. Mengerti kebingungan. Apapunlah.

  2. 4 out of 5

    Rintar

    Peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, Jakarta, pada waktu dini hari, memang suatu misteri yang hingga saat ini belum tuntas terkuak. Bagi yang ingin memulai untuk mengetahui kontroversi peristiwa yang oleh para pelaku utamanya disebut sebagai Gerakan 30 September, buku ini cocok untuk dibaca. Bahasanya ringan, dan sebagian besar disajikan berdasar fakta dan hasil wawancara, dan sedikit analisa. Oleh karena itu, pembaca bisa lebih bebas untuk mengintepretasi dan memberi kesimpulan sendiri, terlebih f Peristiwa tanggal 1 Oktober 1965, Jakarta, pada waktu dini hari, memang suatu misteri yang hingga saat ini belum tuntas terkuak. Bagi yang ingin memulai untuk mengetahui kontroversi peristiwa yang oleh para pelaku utamanya disebut sebagai Gerakan 30 September, buku ini cocok untuk dibaca. Bahasanya ringan, dan sebagian besar disajikan berdasar fakta dan hasil wawancara, dan sedikit analisa. Oleh karena itu, pembaca bisa lebih bebas untuk mengintepretasi dan memberi kesimpulan sendiri, terlebih fakta dan hasil wawancara disajikan secara berimbang, antara tokoh yang terkait dengan peristiwa namun berlainan kesaksian. Jika hanya untuk mengetahui apa dan bagaimana G 30 S secara umum, buku ini memberikan informasi yang lengkap, jauh lebih lengkap daripada sajian serupa pada buku Sejarah Nasional Indonesia karya tim dari Nugroho Susanto, terbitan Balai Pustaka. Dan tentu, buku ini memberikan kita pandangan yang jernih.

  3. 5 out of 5

    Affan Azwar

    hmmmm??? buku ini tidak menceritakan prolog dan epilog peristiwa g30s... pada zaman itu... sulit menyangkal, apabila PKI tidak terlibat pembunuha jenderal SUAD... begitu banyak fakta yang tidak di sebutkan di buku ini... sebagai peneliti.. saya berujar... fakta sejarah tidak seperti yg diceritakan...

  4. 4 out of 5

    Hevirona

    bintang 5 untuk narasinya, saya suka. terlihat usaha penulis untuk cover both sides. penjabaran per tokoh (pelaku, pahlawan, petualang) yang bisa kita simak dan simpulkan masing-masing. namun tetap saja sejarah ini masih meninggalkan misteri, masih ada puzzle yang hilang dan dihilangkan. baik untuk merefleksikan diri dan belajar untuk politik Indonesia saat ini, karena dilihat polanya itu-itu saja.....

  5. 4 out of 5

    Maria Lalita

    Penulis menjanjikan sajian karya yang berimbang, dan benarlah itu adanya. Tidak ada pihak yang disudutkan, hanya sudah jelas banyak yang mengambang.

  6. 5 out of 5

    Riyadijoko Prastiyo

  7. 4 out of 5

    Erviyan Ragil

    Bagi saya, membaca buku ini bagaikan menginterogasi satu per satu tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ada cukup banyak kutipan dari buku-buku lain di buku ini tentang kesaksian-kesaksian para 'pelaku, pahlawan, dan petualang' sesuai dengan judul diatas, dan silahkan anda simpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Ditulis oleh wartawan legendaris Kompas, Julius Pour. Beliau menyajikan buku ini dengan menggu Bagi saya, membaca buku ini bagaikan menginterogasi satu per satu tokoh-tokoh yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung di dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ada cukup banyak kutipan dari buku-buku lain di buku ini tentang kesaksian-kesaksian para 'pelaku, pahlawan, dan petualang' sesuai dengan judul diatas, dan silahkan anda simpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Ditulis oleh wartawan legendaris Kompas, Julius Pour. Beliau menyajikan buku ini dengan menggunakan nama tokoh di setiap bab nya dan disesuaikan dengan urutan abjad, seperti yang beliau katakan di awal bab, 'banyak sekali potongan-potongan puzle yang harus diurutkan dalam peristiwa ini, namun sayangnya beberapa ada yang palsu'. Selamat membaca!

  8. 4 out of 5

    Faaqih Irfan

    Ini buku, yang menurut saya, mencerahkan. Setidaknya, dari hasil investigasi dan bahasa yang naratif, saya bisa mendapat kesimpulan sendiri mengenai sebuah tragedi yang dimulai pada Oktober 1965 itu melalui sebuah gerakan bernama gestapu. Buku yang setidaknya membuat rasa penasaran saya terjawab apa benar ada peristiwa penyiksaan seperti di film Pengkhianatan G-30S/PKI. Buku ini jadi rujukan saya untuk menulis cerita. Bahasanya memang ringan, mudah dicerna. Harapannya, ada buku sejenis namun den Ini buku, yang menurut saya, mencerahkan. Setidaknya, dari hasil investigasi dan bahasa yang naratif, saya bisa mendapat kesimpulan sendiri mengenai sebuah tragedi yang dimulai pada Oktober 1965 itu melalui sebuah gerakan bernama gestapu. Buku yang setidaknya membuat rasa penasaran saya terjawab apa benar ada peristiwa penyiksaan seperti di film Pengkhianatan G-30S/PKI. Buku ini jadi rujukan saya untuk menulis cerita. Bahasanya memang ringan, mudah dicerna. Harapannya, ada buku sejenis namun dengan tambahan informasi yang mendalam di kemudian hari. Semoga!

  9. 5 out of 5

    Rifqi Anifah

    good

  10. 5 out of 5

    Lucas

    Interesting way to retell this famous elusive story - somehow I feel he lost a bit of a pace toward the end of the book

  11. 5 out of 5

    Eko Priyono

    Bgus

  12. 4 out of 5

    Eko Budiman

    wait until I finish read this book.

  13. 4 out of 5

    Adiputra Singgih

  14. 5 out of 5

    Dasep Muhlis

  15. 5 out of 5

    Reynold Octaviano

  16. 4 out of 5

    Anisa Dwi

  17. 4 out of 5

    Erry Tanwijaya

    This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here. adadada

  18. 5 out of 5

    Irwan Joe

  19. 5 out of 5

    Risman Hutabarat

  20. 4 out of 5

    Noery Noery

  21. 5 out of 5

    Agustin

  22. 5 out of 5

    Christina P

  23. 5 out of 5

    Randi Ananda

  24. 5 out of 5

    Chippo Writes

  25. 4 out of 5

    Aan'k High

    6766

  26. 5 out of 5

    Fadli

  27. 4 out of 5

    Rizky

  28. 4 out of 5

    Riva Dienan

  29. 5 out of 5

    Ari.dianuarigmail.com

  30. 4 out of 5

    Edward Luhukay

Add a review

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
We use cookies to give you the best online experience. By using our website you agree to our use of cookies in accordance with our cookie policy.